Jakarta, Voicejogja.com – Di balik tumpukan beras yang memenuhi gudang Bulog, tersimpan harapan panjang tentang ketersediaan pangan yang lebih pasti.
Swasembada pangan yang selama ini terasa jauh, kini mulai terlihat nyata, termasuk bagi warga yang menggantungkan hidup pada stabilitas harga dan pasokan.
Kunjungan akademisi dan mahasiswa ke gudang Perum Bulog di Sidoarjo memperlihatkan satu hal sederhana namun penting: sistem pangan nasional sedang bergerak.
Baca Juga: 2026 Bulog Yogyakarta Target Serap Gabah Petani 195.920 Ton
Suasana gudang yang penuh dan aktivitas truk yang hilir mudik menjadi gambaran langsung bagaimana penyerapan gabah petani berjalan. Akademisi melihat kondisi ini sebagai indikator bahwa swasembada pangan bukan sekadar wacana.
Ketua Pusat Studi SDGs Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Nuning Roadiah, menyebut apa yang dilihat di lapangan memperkuat keyakinan bahwa program ini berada di jalur yang tepat.
“Berdasarkan pengamatan kami, setelah kami diajak masuk ke gudang Bulog. Kami sangat mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian dan juga Bulog, yang ternyata, kami tahu persis di gudang Bulog sekarang penuh dan optimisme kami sebagai masyarakat dan sebagai akademisi, bahwa program swasembada pangan ini benar-benar terwujud,” ujarnya.
Sistem Pangan yang Bergerak
Menurut Nuning, dinamika di gudang mencerminkan sistem logistik yang aktif. Antrean truk pengangkut beras menjadi tanda bahwa hasil panen petani benar-benar terserap.
“Kami sudah melihat bagaimana gudang Bulog itu sekarang, terus hidup, terus bergerak. Banyak sekali tadi yang kami lihat antrean-antrean truk,” lanjutnya.
Dampaknya tidak hanya terlihat pada stok nasional, tetapi juga pada kesejahteraan petani. Harga gabah yang lebih baik memberi ruang bagi petani untuk bertahan dan berkembang.
“Dampak swasembada pangan ini tentunya menjadi positif bagi masyarakat, khususnya petani, yang hari ini mendapat harga gabah yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.
Peran Generasi Muda dan Nilai Juang
Dari sisi mahasiswa, swasembada pangan dipandang sebagai gerakan bersama. Presiden BEM Polbangtan Malang, Muhammad Siril Aufa, menyebutnya sebagai nilai juang, bukan sekadar program.
“Swasembada pangan merupakan sebuah nilai juang. Tidak hanya bagi petani, tapi bagi kami mahasiswa, agar bisa ikut mendedikasikan diri kami,” ujarnya.
Baca Juga: Ekspor Pertanian Naik, Impor Turun, Fondasi Pangan Kian Kuat
Ia juga menilai capaian stok beras nasional menjadi bukti kerja kolektif antara pemerintah dan petani yang harus dijaga keberlanjutannya.
“Kolaborasi dan sinergi ini harus kita tetap jaga, sehingga swasembada pangan tidak hanya berhenti di tahun ini, tapi juga berkelanjutan,” tegasnya.
Mahasiswa Turun ke Lapangan
Keterlibatan mahasiswa terlihat melalui peran sebagai pendamping petani. Mereka diterjunkan ke berbagai wilayah sebagai bagian dari brigade pangan.
Mahasiswa Polbangtan Malang, Danang Pramudya, menjelaskan bahwa generasi muda ikut hadir langsung dalam proses produksi pangan.
“Mahasiswa ini menjadi pendamping petani dalam swasembada pangan,” ujarnya.
Penugasan ke berbagai wilayah seperti Sumatera Selatan hingga Kalimantan Tengah menjadi bagian dari upaya memperkuat implementasi di lapangan.
Kehadiran mahasiswa dalam rantai produksi pangan memberi sinyal bahwa masa depan ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh keterlibatan generasi berikutnya.(Oi)













