Scroll untuk baca artikel
Nasional

Ekspor Pertanian Naik, Impor Turun, Fondasi Pangan Kian Kuat

×

Ekspor Pertanian Naik, Impor Turun, Fondasi Pangan Kian Kuat

Sebarkan artikel ini

Dari sawah hingga pasar global, arah baru pertanian ikut menentukan masa depan Jogja

Ekspor pertanian naik dan impor turun, memperkuat ketahanan pangan dan berdampak pada stabilitas harga bagi warga Yogyakarta. Foto: M. Digi / Pertanian.go.id

Jakarta, Voicejogja.com – Di tengah dinamika harga pangan global, kabar baik datang dari sektor yang paling dekat dengan kehidupan warga: pertanian. Dari dapur rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner di Yogyakarta, stabilitas pasokan mulai terasa lebih terjaga.

Ketika ekspor meningkat dan impor menurun, ada rasa aman yang perlahan tumbuh. Bukan hanya soal angka nasional, tapi tentang keberlanjutan pangan yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kinerja Menguat, Ketahanan Pangan Menguat

Kinerja sektor pertanian Indonesia menunjukkan tren yang semakin solid. Nilai ekspor pertanian, baik segar maupun olahan, meningkat Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen.

Di saat yang sama, impor turun Rp41,68 triliun atau terkoreksi 9,66 persen. Kombinasi ini memperlihatkan daya saing yang menguat sekaligus berkurangnya ketergantungan pada produk luar negeri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut capaian ini sebagai hasil kerja terintegrasi dari hulu hingga hilir.

“Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri,” ujarnya.

Dampak Nyata hingga ke Petani dan Pasar Lokal

Penguatan sektor ini tidak berhenti di level makro. Pendapatan sektor pertanian tercatat meningkat hingga Rp437,25 triliun, didorong oleh produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, dan ekspor.

Efisiensi juga tercermin dari penghematan devisa impor hingga Rp34 triliun. Sementara produksi beras naik 4,07 juta ton atau tumbuh 13,29 persen, membawa Indonesia menuju swasembada pangan dalam waktu singkat.

Bagi daerah seperti Yogyakarta, kondisi ini memberi ruang stabilitas harga yang lebih terjaga. Pelaku usaha kecil, pasar tradisional, hingga rumah tangga merasakan dampak dari pasokan yang lebih terkendali.

Cadangan Beras dan Rasa Aman Publik

Cadangan Beras Pemerintah mencapai 4,8 juta ton pada April 2026, dengan proyeksi menembus 5 juta ton. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

“Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia,” kata Amran.

Cadangan ini menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan, termasuk bagi wilayah urban seperti Yogyakarta yang sangat bergantung pada distribusi pangan.

Kesejahteraan Petani dan Arah Modernisasi

Nilai Tukar Petani mencapai 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Ini menandakan peningkatan daya beli dan kesejahteraan petani yang semakin nyata.

Di sisi lain, pertumbuhan PDB sektor pertanian pada 2025 mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Pertanian kembali menegaskan perannya sebagai penopang ekonomi.

Transformasi menuju pertanian modern juga berjalan. Efisiensi biaya produksi ditekan hingga 50 persen, sementara produktivitas meningkat hingga 100 persen melalui benih unggul, mekanisasi, dan optimalisasi lahan.

Dari Hulu ke Hilir, Membuka Peluang Baru

Penguatan hilirisasi komoditas seperti kelapa, kakao, kopi, dan sawit membuka peluang investasi besar dan penyerapan tenaga kerja.

Langkah ini diperkuat dengan reformasi struktural, termasuk penyederhanaan regulasi dan penindakan terhadap praktik yang menghambat distribusi pangan.

“Kita bereskan dari hulu sampai hilir. Regulasi kita sederhanakan, mafia kita tindak, distribusi kita perbaiki. Hasilnya sekarang nyata,” ujar Amran.

Menjaga Arah, Menyambut Masa Depan

Bagi Yogyakarta, penguatan sektor pertanian nasional bukan sekadar capaian statistik. Ia menjadi penopang stabilitas hidup warga, dari harga bahan pokok hingga keberlanjutan usaha kecil.

Di tengah perubahan global, arah ini memberi harapan bahwa pangan tetap terjaga, petani semakin sejahtera, dan ekonomi lokal memiliki pijakan yang lebih kuat untuk tumbuh. (Oi)

Sumber: Pertanian.go.id