Yogyakarta, Voicejogja.com – Sejak pagi buta, halaman SMKN 2 Yogyakarta sudah dipenuhi langkah-langkah muda yang bersemangat. Di balik barisan rapi itu, ada harapan, kebanggaan keluarga, dan mimpi mengibarkan bendera di momen paling sakral bagi bangsa.
Seleksi Paskibraka Kota Yogyakarta tahun ini memasuki tahap krusial. Ujian kesamaptaan dan peraturan baris berbaris menjadi penentu, bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesiapan mental generasi muda Jogja.
Tahapan Seleksi yang Semakin Ketat
Sebanyak 115 calon Paskibraka mengikuti rangkaian tes yang digelar di SMKN 2 Yogyakarta. Proses seleksi sudah berjalan sejak tahap administrasi hingga berbagai uji kemampuan dengan sistem gugur.
Baca Juga: Seleksi Paskibraka Jogja Sisakan 80 Pasang
Ketua Tim Kerja Ideologi, Wawasan Kebangsaan dan Ekonomi Sosial Budaya Badan Kesbangpol Kota Yogyakarta, Suryo Nugroho Aji, menjelaskan seleksi kini memasuki fase akhir.
“Dari 60 putra dan 55 putri akan diambil 23 pasang, menggunakan sistem bobot, yakni kesamaptaan 30 persen, PBB 30 persen, dan kepribadian 40 persen,” jelasnya.
Pendekatan ini menegaskan bahwa karakter dan sikap menjadi penentu utama, tidak hanya kekuatan fisik.
Fisik Prima Jadi Fondasi
Tes kesamaptaan menjadi bagian penting untuk memastikan kesiapan peserta menjalani pendidikan dan pelatihan intensif selama hampir satu bulan.
“Kesamaptaan sangat penting untuk mengetahui kesiapan jasmani calon Paskibraka. Kami ingin memastikan mereka yang terpilih memiliki fisik prima,” ujar Suryo.
Ketua Duta Pancasila Paskibraka Indonesia Kota Yogyakarta, Bima Putra Febiyantara, menggambarkan rangkaian tes yang dijalani peserta sejak pagi.
“Peserta datang sejak pukul 05.00, mulai dari registrasi, pengecekan tensi, lari 12 menit, lalu dilanjutkan push up, sit up, back up, dan shuttle run,” ungkapnya.
Transparansi dan Semangat Generasi Muda
Seleksi tahun ini juga mengedepankan transparansi melalui sistem berbasis online. Peserta dapat memantau hasil secara langsung, memberi rasa adil dan terbuka dalam setiap tahap.
Di balik proses yang ketat, tersimpan cerita personal yang menjadi energi bagi para peserta. Haifa Binti Mahir Hamdun dari SMAN 3 Yogyakarta mengaku telah mempersiapkan diri sejak lama.
“Saya ingin berkontribusi bagi masyarakat dan negara. Pengalamannya seru dan menantang,” katanya.
Hal serupa dirasakan Rafqindra Ardya Arkananta dari SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta.
“Saya ingin membanggakan orang tua, sekaligus menambah pengalaman untuk meraih cita-cita masuk Akademi Militer,” ujarnya.
Menjaga Makna Pengabdian di Jogja
Seleksi Paskibraka di Kota Yogyakarta bukan sekadar mencari pengibar bendera. Ini adalah proses membentuk generasi yang memahami makna disiplin, tanggung jawab, dan cinta tanah air.
Di tengah dinamika zaman, Jogja terus merawat ruang bagi anak muda untuk tumbuh dengan nilai kebangsaan yang kuat. Dari lapangan sekolah, langkah-langkah kecil itu perlahan mengarah pada panggung pengabdian yang lebih besar. (Oi)













