Scroll untuk baca artikel
BisnisDaerahEkonomi

Minyak Atsiri Dlingo Dorong Ekonomi Warga Bantul

×

Minyak Atsiri Dlingo Dorong Ekonomi Warga Bantul

Sebarkan artikel ini

Lahan kritis di Dlingo berubah menjadi sumber penghidupan berkelanjutan

Minyak atsiri Dlingo Bantul kembangkan ekonomi warga lewat sereh wangi, hilirisasi produk, dan pemanfaatan lahan kritis berkelanjutan. foto: Dok bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com – Di lereng perbukitan Dlingo, Bantul, hamparan lahan berbatu yang dulu sulit ditanami kini mulai berubah wajah. Aktivitas warga yang memanen tanaman aromatik menghadirkan harapan baru, terutama bagi keluarga petani yang menggantungkan hidup dari tanah yang sebelumnya kurang produktif.

Pengembangan minyak atsiri di Dusun Kebonsungu I menjadi salah satu contoh bagaimana inovasi berbasis potensi lokal mampu menggerakkan ekonomi warga. Dari lahan marginal, tumbuh ekosistem usaha yang perlahan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Bantul.

Lahan Kritis yang Berubah Jadi Sumber Ekonomi

Inisiatif ini berawal dari pemanfaatan lahan berbatu yang tidak cocok untuk komoditas pertanian umum. Tanaman seperti sereh wangi dan kayu putih kemudian dipilih karena lebih adaptif terhadap kondisi tanah setempat.

“Sebagian besar lahan di sini adalah lahan kritis, berbatu dan sulit ditanami palawija. Dari situ muncul gagasan untuk menanam tanaman atsiri seperti sereh wangi dan kayu putih yang lebih adaptif, sekaligus memiliki nilai ekonomi,” jelas Sunaryanto, inisiator UMKM Shafaluna.

Perubahan ini tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga membuka ruang kerja baru bagi warga yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian tradisional.

Dari 7 Hektar ke Ratusan Petani Terlibat

Sejak dimulai pada 2017, pengembangan minyak atsiri di kawasan ini berkembang signifikan. Dari awalnya sekitar 7 hektar lahan, kini melibatkan 472 petani dalam kemitraan bersama UMKM Shafaluna.

Sereh wangi menjadi komoditas utama karena perawatannya relatif mudah dan bisa dipanen berulang. Hal ini memberi kepastian pendapatan yang lebih stabil bagi petani.

“Tanaman ini cukup sekali tanam, tapi bisa dipanen berkali-kali. Panen pertama di bulan ke-6, selanjutnya bisa tiap 32 sampai 38 hari. Ini tentu sangat membantu meningkatkan pendapatan petani,” ujar Sunaryanto.

Hilirisasi Produksi dan Nilai Tambah Ekonomi

Tidak berhenti di budidaya, pengolahan hasil panen juga dilakukan secara mandiri melalui fasilitas penyulingan. Dari 100 kilogram daun sereh wangi, dihasilkan sekitar 400 hingga 700 mililiter minyak atsiri.

Baca Juga: KWT Bantul Perkuat Ketahanan Pangan Lokal

Produk ini kemudian dikembangkan menjadi berbagai turunan, seperti sabun mandi, lilin aromaterapi, hingga produk berbasis minyak atsiri lainnya. Legalitas produk juga telah terdaftar di BPOM.

“Produk kami juga sudah memiliki legalitas, termasuk terdaftar di BPOM, sehingga aman digunakan masyarakat,” imbuhnya.

Langkah ini memperkuat rantai nilai ekonomi lokal sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat warga.

Ekonomi Lokal dan Keberlanjutan Lahan

Selain dampak ekonomi, pengembangan minyak atsiri juga berkontribusi pada pelestarian tanaman herbal dan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan. Lahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan kini memiliki fungsi produktif sekaligus ekologis.

Model seperti ini menunjukkan bagaimana potensi desa di Bantul dapat menjadi bagian penting dari ekonomi hijau yang tumbuh dari bawah.

Arah Pengembangan ke Depan

Penguatan sektor minyak atsiri di Dlingo diharapkan terus mendapat dukungan lintas pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga sektor swasta. Kolaborasi menjadi kunci untuk memperluas dampak yang sudah mulai dirasakan warga.

“Dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat, kami optimistis pengembangan atsiri ini bisa menjadi salah satu pilar ekonomi masyarakat ke depan,” pungkas Sunaryanto.

Bagi Bantul, inisiatif ini bukan hanya tentang komoditas baru, tetapi tentang bagaimana desa mampu membangun masa depan ekonominya sendiri dari potensi yang selama ini tersembunyi. (Oi)