Yogyakarta, Voicejogja.com – Pagi di bantaran Sungai Code terasa berbeda. Warga, mahasiswa, hingga aparat turun bersama, memungut sampah dan merapikan aliran sungai yang selama ini menjadi nadi kehidupan kota.
Di balik aksi bersih ini, ada kepentingan yang lebih besar: menjaga Jogja tetap aman dari banjir sekaligus merawat ruang hidup yang layak bagi generasi ke depan.
Baca Juga: KADIN Bantul Luncurkan GUBUG, Dorong UMKM Bangkit
Gotong Royong di Jantung Kota
Aksi bersih Sungai Code digelar di kawasan Tegalrejo, tepatnya di belakang Hotel Tentrem Yogyakarta. Ratusan peserta terlibat, mulai dari unsur pemerintah, TNI, mahasiswa, hingga warga setempat.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turun langsung memimpin kegiatan. Sampah diangkut, bantaran dirapikan, hingga bangunan yang mengganggu aliran sungai ditertibkan.
Kegiatan ini menjadi cerminan kuatnya budaya gotong royong warga Jogja dalam merawat lingkungan bersama.
Lebih dari Sekadar Bersih-Bersih
Aksi ini tidak berhenti pada urusan estetika. Sungai yang bersih dinilai memiliki potensi menjadi ruang publik yang lebih hidup, bahkan berkembang sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan.
Namun di balik itu, ada persoalan yang lebih mendesak: ancaman banjir.
“Kalau sungai penuh sampah dan banyak hambatan aliran air, maka sangat rawan meluap. Ini yang kemudian bisa menyebabkan banjir. Jadi kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih, tapi bagian dari mitigasi bencana,” ujar Hasto.
Kesadaran ini menjadi penting, mengingat sungai di tengah kota berperan langsung terhadap keselamatan warga.

Drainase dan Upaya Jangka Panjang
Selain membersihkan sungai, perhatian juga diarahkan pada sistem drainase yang masih terbatas di beberapa wilayah. Kondisi ini turut memengaruhi potensi genangan saat hujan.
Pemerintah Kota Yogyakarta menyiapkan langkah lanjutan melalui pembangunan dan perbaikan saluran drainase di titik rawan.
“Drainase kita masih kurang di beberapa wilayah, ini juga menjadi penyebab banjir. Maka tahun ini kita fokus membangun dan memperbaiki saluran drainase agar aliran air bisa lebih lancar,” jelasnya.
Upaya ini diperkuat dengan rencana pemasangan alat penyaring sampah di sungai-sungai besar, agar sampah dari hulu tidak menumpuk di kawasan kota.
Kesadaran yang Tumbuh dari Warga
Partisipasi warga menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan gerakan ini. Salah satu mahasiswa yang terlibat, Jose Dacosta dari Universitas Gadjah Mada, melihat aksi ini sebagai langkah nyata membangun kepedulian bersama.
Baca Juga: Bisa Beli Artikel Budaya disini
“Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini. Selain menjaga kebersihan sungai, ini juga menjadi bentuk kepedulian kita bersama terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan agar kesadaran menjaga lingkungan tidak berhenti pada satu momentum.
Sungai sebagai Cermin Masa Depan Jogja
Sungai Code bukan sekadar aliran air, tetapi bagian dari identitas Jogja. Ketika sungai dijaga, kota pun ikut terjaga.
Aksi bersih ini mengingatkan bahwa masa depan Jogja tidak hanya ditentukan oleh pembangunan besar, tetapi juga oleh kebiasaan kecil yang dilakukan bersama.
Menjaga sungai berarti menjaga kehidupan. dan di situlah Jogja menemukan kekuatannya.(Oi)













