Scroll untuk baca artikel
BudayaDaerah

Jogja Kota Festival, Pemkot Orkestrasi Ribuan Event Terpadu

×

Jogja Kota Festival, Pemkot Orkestrasi Ribuan Event Terpadu

Sebarkan artikel ini

Dari budaya hingga ekonomi kreatif, Yogyakarta menata ekosistem event yang lebih terarah dan berdampak

Jogja Kota Festival diperkuat lewat orkestrasi ribuan event terintegrasi untuk dorong wisata, UMKM, dan ekonomi kreatif Yogyakarta. foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di sudut-sudut kota yang tak pernah benar-benar sepi, Yogyakarta sedang bersiap dengan wajah baru sebagai Kota Festival. Dari ruang budaya hingga kawasan ekonomi kreatif, denyut event terasa semakin terarah, membawa harapan baru bagi pelaku usaha, wisatawan, dan warga yang hidup dari perputaran aktivitas kota.

Bagi banyak pelaku UMKM, seniman, hingga pekerja pariwisata, rangkaian event bukan hanya hiburan, tetapi sumber penghidupan. Karena itu, penguatan kalender event Kota Yogyakarta menjadi langkah yang tak sekadar administratif, melainkan menyangkut keberlanjutan ekonomi warga.

Orkestrasi Ribuan Event untuk Daya Tarik Jogja

Pemerintah Kota Yogyakarta tengah mematangkan strategi branding sebagai Kota Festival melalui penguatan kalender event yang terintegrasi. Langkah ini diarahkan agar setiap kegiatan tidak berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu narasi besar kota.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan pentingnya kurasi dan kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan event kota.

“Kalau kita sudah menyebut sebagai Kota Festival, maka yang harus kita jawab adalah event-nya apa. Kita ingin ke depan orang datang ke Jogja bukan karena kebetulan ada acara, tetapi memang sengaja datang untuk menghadiri event tertentu,” ujarnya.

Lebih dari seribu event yang selama ini berlangsung di Kota Yogyakarta menjadi modal besar, namun tetap membutuhkan penguatan agar dampaknya lebih merata bagi masyarakat.

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Menjawab Tantangan Wisata dan Musim Sepi

Salah satu fokus utama orkestrasi event ini adalah menjawab tantangan low season yang biasanya terjadi pada Februari hingga April. Dalam periode ini, pergerakan wisata cenderung menurun dan berdampak pada sektor usaha.

Pemkot menyiapkan penguatan event berbasis budaya seperti Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, rangkaian Imlek di kawasan Malioboro hingga Ketandan, hingga Ruwahan Agung dan Lomba Takbiran pada momentum keagamaan.

Pendekatan ini tidak hanya menjaga arus wisata, tetapi juga memastikan aktivitas ekonomi tetap hidup sepanjang tahun.

ARTJOG hingga HUT Kota Jadi Penggerak Ekonomi

Event berskala besar seperti ARTJOG juga masuk dalam agenda orkestrasi kota. Dengan durasi panjang, event ini dinilai mampu memberi ruang edukasi seni sekaligus menarik wisatawan dalam jangka waktu lebih lama.

Sementara itu, rangkaian Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta pada Oktober akan dikemas selama satu bulan penuh, dari awal hingga akhir bulan.

“WJNC itu hanya salah satu event puncak, bukan satu-satunya. Kita sedang menyusun rangkaian besar selama satu bulan, mulai dari event budaya, perdagangan, hingga kegiatan komunitas,” ujar Wawan Harmawan.

Baca Juga: Festival Jadi Penggerak Pariwisata Kota Jogjakarta

Kolaborasi Kota, Swasta, dan Komunitas

Dalam pengembangan Jogja Kota Festival, Pemkot menekankan peran kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan komunitas dan pelaku usaha.

Pendekatan ini bukan swastanisasi, melainkan sinergi untuk memperluas dampak ekonomi, termasuk distribusi hunian hotel dan aktivitas wisata di berbagai kawasan kota.

Di sisi lain, Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Kota Yogyakarta menegaskan pentingnya integrasi UMKM dalam setiap event. UMKM tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

“Ke depan, UMKM bukan hanya tempat membeli produk, tetapi juga menghadirkan pengalaman,” ujar Tri Karyadi Riyanto Raharjo.

Pariwisata Jogja dan Ekosistem Event Berkelanjutan

Data sektor pariwisata menunjukkan tingginya ketergantungan pada event sebagai penggerak kunjungan wisata. Pada 2025, jumlah wisatawan mencapai sekitar 11 juta orang, dengan wisatawan mancanegara sekitar 314 ribu.

Rata-rata lama tinggal wisatawan tercatat 1,77 hari, dengan target peningkatan hingga dua hari melalui penguatan ekosistem event yang lebih terstruktur.

“Harapannya wisatawan tidak hanya datang satu hari, tapi bisa tinggal lebih lama karena ada banyak pilihan event,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Muh Zandaru Budi Purwanto.

Menata Masa Depan Jogja sebagai Kota Festival

Orkestrasi ribuan event ini menjadi langkah penting dalam membangun Jogja sebagai kota yang tidak hanya hidup dari nama besar budaya, tetapi juga dari sistem yang tertata.

Di balik panggung-panggung festival, ada harapan warga yang menggantungkan hidup pada pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif yang terus bergerak.

Bagi Yogyakarta, masa depan Kota Festival bukan hanya tentang banyaknya acara, tetapi tentang bagaimana setiap event memberi arti bagi kehidupan warganya. (Oi)