Gunungkidul, Voicejogja.com – Suasana Terminal Dhaksinarga pagi itu tak sekadar ramai aktivitas, tetapi juga diwarnai semangat gotong royong warga yang menyatu dengan upaya menjaga lingkungan.
Di Gunungkidul, gerakan korve dan penanaman pohon kini menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Langkah ini bukan hanya soal kebersihan, melainkan tentang masa depan wilayah yang semakin rentan terhadap ancaman alam. Gunungkidul memilih bergerak dari hal sederhana: menjaga bumi dari lingkungan terdekat.
Korve Tak Lagi Sekadar Bersih-Bersih
Gerakan korve di Gunungkidul kini berkembang melampaui aktivitas menyapu atau membersihkan area publik. Pemerintah daerah mendorong korve sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana, terutama melalui penanaman pohon di wilayah rawan.
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan perhatian khusus diberikan pada sejumlah kawasan yang berpotensi longsor seperti Clongop, Sawahan, Nglipar, dan Ngawen.
“Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada daerah rawan bencana seperti Clongop, Sawahan, Nglipar, dan Ngawen agar tidak lagi terjadi longsor,” ujarnya.
Langkah ini memperlihatkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak lagi reaktif, melainkan mulai diarahkan sebagai upaya pencegahan yang terencana.
Baca Juga: PHRI Gunungkidul Perkuat Sinergi
Menjaga Alam, Mengurangi Risiko
Selain longsor, persoalan banjir juga menjadi perhatian serius. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penanganan sedimentasi di Crossway Sungai Anak Oya di wilayah Gedangsari, yang selama puluhan tahun mengalami penyempitan aliran.
Upaya ini diharapkan mampu mengurangi potensi banjir yang selama ini berdampak pada aktivitas warga. Dalam konteks ini, peran masyarakat juga menjadi krusial.
Warga diimbau untuk tidak menanam tanaman pakan ternak di bantaran sungai yang dapat menghambat aliran air. Kesadaran kolektif menjadi kunci agar upaya mitigasi tidak terhenti di kebijakan semata.
Menanam Kesadaran Sejak Dini
Gerakan lingkungan di Gunungkidul juga diarahkan masuk ke ruang keluarga dan sekolah. Kebiasaan menjaga kebersihan diharapkan tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar kewajiban.
Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dilibatkan untuk mengedukasi anak-anak tentang pentingnya merawat lingkungan. Anak-anak didorong mulai menanam tanaman sederhana sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masa depan.
“Sebagai bagian dari komitmen sebagai Kabupaten Layak Anak, Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan kita libatkan untuk mengedukasi siswa sekolah dalam menjaga kelestarian alam,” kata Bupati.
Langkah ini memperkuat fondasi bahwa mitigasi bencana tidak hanya berbasis infrastruktur, tetapi juga budaya.
Jogja dan Masa Depan Lingkungan
Gerakan korve dan penanaman pohon di Gunungkidul menjadi cermin bagaimana Jogja membangun ketahanan dari bawah. Dari ruang publik, keluarga, hingga sekolah, semuanya bergerak dalam satu arah yang sama.
Ketika kesadaran lingkungan tumbuh sebagai kebiasaan, maka mitigasi bencana bukan lagi sekadar program, melainkan bagian dari cara hidup.
Di titik inilah, Jogja menunjukkan bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga janji bersama untuk masa depan yang lebih aman.(Oi)













