Kulon Progo, Voicejogja.com – Sorak penonton dan derap langkah di GOR Cangkring menyatu dalam satu irama, semangat sportivitas yang terasa hidup di tengah pelajar Kulon Progo. STVC 2026 bukan sekadar kompetisi voli, tetapi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk belajar tentang kerja sama, karakter, dan arah masa depan.
Di tengah perayaan HUT ke-35 SMA Negeri 1 Temon, ajang ini menjadi cermin bagaimana pendidikan di Jogja terus bergerak, menggabungkan prestasi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Arena Kompetisi, Ruang Tumbuh Bersama
STESA Volleyball Competition (STVC) hadir sebagai bagian dari rangkaian GATESKA, membawa semangat “Sagara Jwalana Akayasa” yang menggambarkan tekad luas dan tinggi.
Selama tiga hari, lapangan voli di GOR Cangkring menjadi ruang pertemuan energi muda. Sebanyak 18 tim dari jenjang SMP hingga SMA bertanding, tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi juga membangun pengalaman kolektif.
Baca Juga: Ulang Tahun Ke 5 SAR SIGAP Kulon Progo
Kepala SMA Negeri 1 Temon, Dra. Lestari Asih Partiwi, menegaskan bahwa ajang ini dirancang sebagai wadah positif bagi pelajar.
“Kegiatan ini adalah sarana untuk mengembangkan bakat sekaligus mempererat persaudaraan. Kami ingin siswa tidak hanya unggul secara prestasi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat melalui nilai-nilai sportivitas dan fair play,” tuturnya.

Sportivitas yang Menjadi Fondasi
Di balik setiap pertandingan, ada nilai yang terus dijaga, sportivitas.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk PBVSI dan KONI Kulon Progo, memperkuat bahwa pembinaan atlet usia dini tidak hanya soal teknik, tetapi juga mental dan etika.
Persaingan berlangsung ketat, dengan MTs Negeri 4 Kulon Progo dan SMAN 1 Pengasih A keluar sebagai juara di masing-masing kategori. Gelar Best Player kategori SMP diraih oleh Rizqi Putra Pratama.
Namun lebih dari sekadar hasil, yang tertinggal adalah pengalaman belajar tentang menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang.
GATESKA, Menyatukan Prestasi dan Nilai
STVC menjadi bagian dari rangkaian GATESKA yang lebih luas, mencakup kegiatan sosial dan budaya.
Pembagian takjil, bakti sosial, hingga tirakatan dan kirab budaya menunjukkan bahwa pendidikan di SMAN 1 Temon tidak hanya bertumpu pada ruang kelas, tetapi juga pada kehidupan sosial dan nilai tradisi.
Baca Juga : IKAPTK Dorong Pariwisata Gua Kebon
Di sinilah SMAN 1 Temon tampil sebagai subjek, menghidupkan pendidikan yang tidak tercerabut dari akar budaya dan kepedulian sosial.

Mengarah ke Generasi Berkarakter
Rangkaian kegiatan akan berlanjut hingga puncak perayaan pada akhir April, termasuk lomba internal dan acara hiburan yang melibatkan warga sekolah dan masyarakat.
Semangat “Sagara Jwalana Akayasa” menjadi lebih dari sekadar tema, ia hadir sebagai arah, bagaimana generasi muda dibentuk untuk aktif, sehat, dan berkarakter.
Di tengah perubahan zaman, ruang-ruang seperti ini menjadi penting, karena di sanalah masa depan Kulon Progo perlahan disusun, dari lapangan sederhana, dari semangat yang tumbuh bersama (Oi)













