Bantul, voicejogja.com – Di banyak halaman rumah di Bantul, tanah tak lagi sekadar ruang kosong. Ia mulai dibayangkan sebagai sumber pangan, tempat harapan tumbuh dari tangan-tangan perempuan yang merawatnya setiap hari.
Pelantikan kepengurusan baru KWT Projo Wanita Mukti menjadi penanda bahwa ketahanan pangan di Jogja tidak hanya bertumpu pada sawah, tetapi juga dari pekarangan rumah warga.
Baca juga: Sekolah Rakyat di Kulon Progo Segera Dimulai
Kepengurusan baru Asosiasi Kelompok Wanita Tani (KWT) Projo Wanita Mukti Kabupaten Bantul resmi dilantik untuk masa bakti 2026–2029. Prosesi berlangsung di Pendopo Srimulyo, Payak Cilik, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan.
Momentum ini menjadi awal penguatan peran perempuan dalam mendukung ketahanan pangan daerah.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bantul kami mengucapkan selamat atas pengukuhan ini, semoga kepengurusan baru ini akan meningkatkan semangat, meningkatkan dedikasi kita untuk Kabupaten Bantul yang kita cintai,” ujar Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
Pekarangan Jadi Kekuatan Baru
Di tengah keterbatasan lahan sawah, Bantul melihat peluang besar dari pekarangan rumah warga. Luas lahan pekarangan yang mencapai sekitar 16 ribu hektare dinilai menjadi potensi strategis.
“Sawah kita luasnya kurang dari 14 ribu hektare, sementara lahan pekarangan sekitar 16 ribu hektare. Ini potensi besar yang harus kita manfaatkan,” tegas Bupati.
Pemanfaatan lahan ini diarahkan untuk tanaman hortikultura yang bisa langsung mendukung kebutuhan pangan keluarga.
Peran Perempuan dan Arah Kebijakan
Keterlibatan aktif anggota KWT menjadi kunci dalam menggerakkan program ini. Dari skala rumah tangga, gerakan ini diharapkan membentuk kekuatan kolektif yang berdampak luas.
Sinergi antara KWT Projo Wanita Mukti dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian juga didorong untuk menghadirkan program yang terencana dan berkelanjutan.
“Keberadaan ibu-ibu KWT ini sangat strategis bagi tercapainya ketahanan pangan di Kabupaten Bantul,” lanjutnya.
Dari Rumah untuk Masa Depan Pangan
Langkah ini tidak hanya soal menanam, tetapi juga membangun kemandirian pangan dari lingkup paling dekat dengan kehidupan warga.
Ketika pekarangan mulai produktif, ketahanan pangan tak lagi terasa jauh. Ia tumbuh dari rumah, dari komunitas, dan dari semangat perempuan Bantul yang menjaga keberlanjutan. (Oi)













