Scroll untuk baca artikel
DaerahEkonomiFavoritePemerintah

Tanpa APBD, Jogja Ngebut Perbaiki 200 Rumah Warga

×

Tanpa APBD, Jogja Ngebut Perbaiki 200 Rumah Warga

Sebarkan artikel ini

Gerakan sunyi gotong royong yang mengubah hidup warga dari dalam rumahnya

Program perbaikan 200 RTLH di Jogja berjalan tanpa APBD, mengandalkan gotong royong lintas pihak demi hunian layak bagi warga. foto: Dok warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, Voicejogja.com – Pagi itu, dinding rumah tua di sudut kampung tampak mulai dibongkar perlahan. Debu beterbangan, tapi di wajah pemiliknya justru muncul harapan yang selama ini nyaris padam.

Bagi sebagian warga, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan batas antara hidup layak dan bertahan seadanya.

Di tengah keterbatasan, sebuah gerakan sunyi mulai bekerja. Tanpa banyak sorotan, ratusan rumah di Yogyakarta perlahan berubah, membawa rasa aman yang selama ini terasa mahal.

Baca Juga: Dari Pasar Terban Kekuatan warga Jogja Mulai Terlihat

Gerakan Sunyi dari Kampung ke Kampung

Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kembali dilanjutkan dengan pendekatan yang tak biasa. Di Kelurahan Purwokinanti dan Wirogunan, perbaikan rumah dilakukan melalui gotong royong lintas pihak, dari komunitas hingga sektor swasta.

Dukungan datang dari berbagai arah. Bantuan CSR, material bangunan, hingga tenaga kerja menyatu dalam satu tujuan: menghadirkan hunian yang lebih manusiawi bagi warga rentan.

Terlihat sederhana, tapi berdampak besar—banyak warga tak menyadari bahwa perubahan ini tidak bergantung pada anggaran besar, melainkan pada kekuatan kolaborasi.

Tanpa APBD, Tapi Berdampak Nyata

Di balik program ini, ada pendekatan yang berbeda. Perbaikan rumah tidak menggunakan APBD maupun APBN, melainkan mengandalkan sinergi berbagai pihak.

Kondisi ini justru membuka jalan bagi solusi yang lebih fleksibel, terutama untuk rumah yang terkendala status administrasi lahan.

“Tanpa APBD, tanpa APBN, tapi tetap bisa berjalan,” menjadi gambaran nyata bahwa pembangunan tak selalu harus menunggu sistem yang sempurna.

Dan di titik ini, muncul satu pertanyaan yang menggantung: jika tanpa anggaran pun bisa bergerak, seberapa besar potensi yang sebenarnya belum tergali?

Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Dari 82 ke 200 Rumah: Lompatan yang Tak Biasa

Perjalanan program ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Tahun sebelumnya, 82 rumah berhasil diperbaiki. Kini, target melonjak menjadi 200 rumah di tahun 2026.

Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada ratusan keluarga yang perlahan keluar dari kondisi hunian tidak sehat, dari dapur yang menyatu dengan kamar, hingga rumah yang rawan banjir.

Banyak warga tak menyadari, kualitas rumah berpengaruh langsung pada kesehatan, pendidikan anak, hingga produktivitas ekonomi keluarga.

Kisah Partini: Dari Cemas ke Harapan

Di Wirogunan, Partini (70) menyaksikan sendiri perubahan itu. Rumah yang ia tempati sejak kecil, yang sering kebanjiran dan jauh dari kata layak, kini mulai diperbaiki.

Ia tinggal bersama anak dan cucunya, menjalani hari sebagai pembantu rumah tangga dan berjualan kecil-kecilan.

“Alhamdulillah, senang sekali,” ucapnya singkat. Tapi di balik kalimat sederhana itu, tersimpan beban panjang yang akhirnya mulai terangkat.

Di titik ini, rumah bukan lagi sekadar bangunan, melainkan rasa aman yang selama ini tertunda.

Baca Juga: Dibalik Kasus Mafia Tanah Mbah Tupon

Lebih dari Sekadar Perbaikan Fisik

Program ini bukan hanya tentang membangun ulang dinding atau atap. Ada makna sosial yang lebih dalam: menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah kota.

Dalam konteks yang lebih luas, ini menjadi contoh bahwa pembangunan bisa tumbuh dari bawah—dari kepedulian, bukan sekadar kebijakan.

Reflektifnya, mungkin selama ini kita terlalu fokus pada angka dan proyek besar, hingga lupa bahwa perubahan paling terasa justru dimulai dari ruang-ruang kecil seperti rumah.

Arah ke Depan: Kota yang Dibangun Bersama

Target 200 rumah bukanlah akhir, melainkan awal dari gerakan yang lebih luas. Harapannya, semakin banyak pihak terlibat, semakin banyak warga yang merasakan dampaknya.

Program ini juga membuka ruang bagi model pembangunan alternatif, yang tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran, tetapi pada kolaborasi dan empati.

Dan pada akhirnya, kota bukan hanya tentang jalan dan gedung tinggi. Ia tumbuh dari rumah-rumah kecil yang layak, tempat harapan dibangun setiap hari. (Oi)

Sumber: warta.jogjakota.go.id