Yogyakarta, Voicejogja.com – Suasana hangat terasa di sudut Pasar Terban, bukan karena transaksi, tetapi karena tawa dan sapaan yang saling bersambut. Di antara kursi sederhana dan wajah-wajah akrab, ada energi yang tak terlihat, namun justru menjadi fondasi penting bagi masa depan kota.
Banyak yang mengira pembangunan hanya soal proyek besar. Padahal, di ruang-ruang kecil seperti ini, arah kota justru diam-diam ditentukan.

Warga RW 05 Terban, Gondokusuman, berkumpul dalam momen Syawalan 1447 H di Aula Pasar Terban, Jumat (10/4/2026). Pertemuan itu tidak sekadar menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga ruang bertemunya gagasan, harapan, dan kekuatan sosial warga.
Di tempat yang sehari-hari dikenal sebagai pusat jual beli, suasana berubah menjadi ruang kebersamaan yang hidup.
Baca Juga: PERWOSI Gunung Kidul Kejar Rekor Muri
Dari Pasar ke Pusat Kehidupan Sosial
Pasar sering dipandang hanya sebagai ruang ekonomi. Namun di Terban, ia menjelma menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak hal—interaksi, komunikasi, hingga solidaritas.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Yogyakarta, Yunianto Dwi Sutono, menegaskan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan dari atas.
Menurutnya, kekuatan justru lahir dari bawah, dari RT, RW, hingga komunitas yang memahami kebutuhan mereka sendiri.
“Peran wilayah menjadi sangat penting karena di situlah denyut kehidupan masyarakat berlangsung,” ujarnya.
Terlihat sederhana, tapi berdampak besar, ketika warga terlibat, pembangunan menjadi lebih hidup dan tepat sasaran.
Kekuatan yang Sering Tak Terlihat
Banyak warga tak menyadari, partisipasi kecil seperti hadir dalam forum kampung, menjaga lingkungan, hingga sekadar berinteraksi, sebenarnya adalah fondasi utama kota.
Tanpa itu, pembangunan fisik hanya akan menjadi struktur tanpa jiwa.
Jika dibandingkan dengan berbagai program pemberdayaan kampung di Yogya atau penguatan komunitas berbasis budaya, pola ini menunjukkan satu benang merah: kota yang kuat selalu bertumpu pada warga yang terlibat.
Di tengah artikel ini, ada satu hal yang layak direnungkan, kemajuan kota bukan dimulai dari proyek besar, tapi dari rasa memiliki yang tumbuh di antara warganya.
Antara Revitalisasi dan Kesadaran Bersama
Pasar Terban sendiri kini telah bertransformasi menjadi pasar rakyat berstandar nasional setelah revitalisasi. Lebih tertata, bersih, dan nyaman.
Namun ada satu hal yang tak kalah penting: apakah ruang yang sudah dibangun ini akan benar-benar hidup?
Yunianto mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak berhenti pada fisik. Peran masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban, dan fungsi sosial pasar menjadi kunci keberlanjutan.
Baca Juga: Dibalik Mundurnya Prabowo dari IPSI
Di sinilah letak tantangannya, ketika fasilitas sudah tersedia, apakah kesadaran kolektif juga ikut tumbuh?
Syawalan yang Menyimpan Arah Kota
Ketua panitia, Sari Asih, menyebut syawalan ini sebagai upaya menguatkan kebersamaan warga. Sebuah langkah sederhana, namun memiliki efek yang panjang.
Acara juga diisi tausiah oleh Uztad Ahyan Haerani, yang mengajak warga menjaga persatuan dan nilai kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan mungkin, tidak semua menyadari: dari pertemuan sederhana di pasar ini, masa depan kota sedang dirawat secara perlahan. (oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id













