Sleman, Voicejogja.com – Aroma kayu dan masakan hangat menyatu dengan tawa yang pecah perlahan di sebuah sudut Sleman. Ratusan orang duduk bersisian, tak sekadar berkumpul, mereka sedang merawat ingatan tentang siapa mereka, dan dari mana mereka berasal.
Bagi sebagian orang, Syawalan mungkin hanya tradisi pasca-Lebaran. Namun di sini, ia menjelma menjadi ruang sunyi yang menyimpan pesan besar tentang keberanian, identitas, dan masa depan.
Baca Juga: Menguak Sastra Jendra, Puncak Spiritualitas jawa
Menghidupkan Kembali Semangat Perlawanan
Di Restoran Kayu Manis, Bogem, Sleman, ratusan keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono II berkumpul dalam Syawalan Pasederekan Trah HB II.
Acara berlangsung hangat dan guyub, dibuka dengan lagu Indonesia Raya dan pembacaan Sastra Mantra—sebuah perpaduan antara nasionalisme dan akar budaya yang tak terpisahkan.
Namun lebih dari sekadar temu keluarga, pertemuan ini membawa satu pesan yang terasa relevan: nilai perjuangan tidak boleh berhenti di masa lalu.
Keteladanan yang Tak Lekang Waktu
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyoroti sosok HB II sebagai figur yang gigih melawan penjajahan.
Integritasnya dalam membela rakyat bahkan disebut menjadi salah satu faktor runtuhnya VOC pada 1799.
Terlihat seperti kisah sejarah, tapi sesungguhnya ini cermin untuk hari ini, bahwa keberpihakan kepada rakyat selalu menemukan jalannya, dalam bentuk apa pun.
Banyak yang tak menyadari, sejarah bukan sekadar cerita lama, ia adalah arah diam-diam bagi masa depan.

Dari Kebanggaan Menuju Tanggung Jawab
Pesan serupa disampaikan GBPH Yudhaningrat.
Ia mengingatkan bahwa menjadi bagian dari trah bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga laku, tentang bagaimana nilai itu dijalankan dalam kehidupan nyata.
Mulai dari hal sederhana seperti menjaga lingkungan hingga aksi sosial seperti bedah rumah, semua menjadi wujud nyata dari warisan yang hidup.
Terlihat sederhana, tapi berdampak besar.
Baca Juga: Nyi Ageng Tegalrejo, Srikandi Penjaga Marwah Kesultanan
Menjaga Marwah, Menatap Masa Depan
Nama besar Sultan bukan sekadar gelar panjang yang dihafal, melainkan tanggung jawab untuk menjaga budaya adiluhung tetap relevan di tengah zaman yang terus berubah.
Dalam konteks ini, upaya mendorong Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional juga menjadi bagian dari perjuangan yang belum selesai.
Sebuah langkah yang bukan hanya soal pengakuan, tapi juga tentang memastikan sejarah tetap hidup di ingatan generasi berikutnya. (Oi)













