Yogyakarta, Voicejogja.com – Suasana Taman Budaya Embung Giwangan terasa hangat pagi itu. Bukan sekadar halal bihalal, pertemuan ini menyimpan harapan baru, tentang bagaimana ide kreatif bisa berubah menjadi peluang nyata bagi pelaku usaha kecil.
Banyak yang belum menyadari, dari ruang sederhana seperti ini, arah ekonomi kreatif bisa perlahan berubah.
Baca Juga: Dibalik OTT KPK Bupati Tulungagung
Minggu, 12 April 2026, komunitas Insan Film Jogja dan Jawa Tengah menggelar Syawalan dan Halal Bihalal di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Acara ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga membuka ruang kolaborasi antara pelaku perfilman dan UMKM.
Ketua panitia, Saifuddin Zuhri, menegaskan bahwa pertemuan ini dirancang untuk menciptakan hubungan saling menguatkan di era digital.
Ketika Kreativitas Bertemu Kebutuhan Pasar
Di tengah persaingan yang semakin visual, pelaku UMKM kini dituntut tampil lebih menarik. Di sisi lain, insan perfilman memiliki kemampuan produksi konten yang dibutuhkan.
Terlihat sederhana, tapi dampaknya bisa besar, ketika produk lokal dikemas dengan visual yang tepat, daya saingnya ikut meningkat.
“Pelaku usaha di era digital sangat membutuhkan promosi visual. Di sinilah peran insan film,” ujar Saifuddin.
Banyak warga tak menyadari, kualitas konten kini bisa menentukan apakah sebuah produk dilirik atau justru terlewat begitu saja.

Lebih dari Sekadar Silaturahmi
Acara yang dipandu Wendy Yap ini juga menghadirkan sejumlah tokoh, seperti sutradara senior Wimbadi dan aktris Retno yang dikenal lewat sinetron Tukang Ojek Pengkolan.
Selain diskusi, suasana semakin cair dengan penampilan musik dari Tami serta pembagian doorprize bagi peserta.
Namun di balik kemeriahan itu, ada pesan yang lebih dalam, bahwa industri kreatif tidak bisa berjalan sendiri.
Pesan untuk Generasi Kreatif
Dalam sesi berbagi, Wimbadi menekankan pentingnya proses belajar yang berkelanjutan. Sementara Retno mengingatkan soal mental dan konsistensi dalam berkarya.
“Kuncinya istikamah dan rendah hati. Tetap fokus pada karya,” pesannya.
Di titik ini, muncul satu refleksi sederhana: karya besar sering lahir dari pertemuan kecil yang tulus.
Arah Baru Ekonomi Kreatif Lokal
Kolaborasi seperti ini bukan hal baru, namun kini terasa semakin relevan. Apalagi di tengah dorongan penguatan ekonomi kreatif di berbagai daerah, termasuk DIY.
Seperti yang juga terlihat dalam geliat komunitas kreatif di Malioboro maupun perkembangan UMKM digital di Bantul, sinergi lintas sektor mulai menjadi kebutuhan, bukan pilihan.
Pertanyaannya, apakah kolaborasi seperti ini akan terus berlanjut atau berhenti sebagai agenda tahunan?
Baca Juga: 650 Pesepeda Hadiri HUT ke – 9 AlGOJO
Dengan latar Taman Budaya Embung Giwangan yang kian dikenal sebagai ruang kreatif baru, pertemuan ini memberi sinyal bahwa masa depan UMKM tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga pada cerita yang mampu mereka bangun.
Dan dari sinilah, mungkin, perubahan itu benar-benar dimulai. (Oi)













