Kulon Progo, Voicejogja.com – Suasana Masjid Al-Hadid di Sentolo terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan hanya lantunan doa, tetapi juga harapan-harapan kecil warga yang perlahan menemukan jalannya.
Di tengah kesederhanaan, ada energi yang tak selalu terlihat, tentang kebersamaan, tentang masa depan, dan tentang bagaimana sebuah ruang ibadah bisa menjadi pusat kehidupan.
Ruang Ibadah yang Hidup, Bukan Sekadar Tempat Singgah
Safari Jumat di Dusun Banaran Kidul, Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Jumat (10/4/2026), menghadirkan lebih dari sekadar agenda rutin. Ada perjumpaan antara nilai budaya dan religi yang terasa nyata di tengah masyarakat.
Asisten Daerah I Kulon Progo, Jazil Ambar Was’an, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ini. Menurutnya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga benteng moral di tengah derasnya perubahan zaman.
Banyak warga tak menyadari, ketika masjid hidup dengan aktivitas, di situlah sebenarnya kekuatan sosial sedang dibangun secara perlahan.
“Religi dan budaya adalah warisan yang harus dijaga. Jika tidak, generasi muda bisa kehilangan arah,” ujarnya.
Dari Anak-anak hingga Lansia, Semua Terlibat
Di Masjid Al-Hadid, kehidupan terasa berdenyut dari berbagai arah. Anak-anak mengaji dalam TPA, para orang tua mengikuti mujahadah, hingga lansia yang tetap aktif dalam kegiatan sosial keagamaan.
Ketua Takmir, Mardhani, menyebut sekitar 60 santri rutin belajar tiga kali seminggu. Sementara kegiatan mujahadah mobile menjadi cara unik mempererat hubungan antarwarga.
Baca Juga: Influencer Thailand Jelajah Kulon Progo
Terlihat sederhana, tapi dampaknya besar, kebersamaan yang terbangun menjadi fondasi kuat kehidupan sosial.
Di sisi lain, generasi muda juga tidak ditinggalkan. Remaja masjid diberi ruang untuk berkegiatan, dipersiapkan menjadi tulang punggung kampung di masa depan.
Harapan yang Datang Bersama Bantuan
Momentum Safari Jumat juga menghadirkan bantuan nyata bagi warga. Mulai dari rehab rumah ibadah hingga santunan bagi warga duafa.
Bagi sebagian orang, angka bantuan mungkin terlihat kecil. Namun bagi mereka yang menerima, itu bisa menjadi penopang hidup yang sangat berarti.
Sutiyah, salah satu penerima, hanya bisa mengungkapkan syukur sederhana. Bantuan itu akan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Di titik ini, terasa jelas, kebijakan tidak selalu harus besar untuk berdampak. Yang penting, hadir dan menyentuh.
Kabar Haji dari Kulon Progo yang Menggugah
Di tengah suasana hangat itu, kabar lain turut disampaikan. Untuk pertama kalinya, jemaah haji Kulon Progo akan diberangkatkan langsung melalui Yogyakarta International Airport (YIA).
Rencana ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga. Mereka akan menjadi bagian dari kloter pertama yang berangkat dari bandara tersebut.
Sebuah momen yang mungkin akan dikenang lama, bukan hanya soal perjalanan, tetapi tentang identitas daerah yang semakin kuat.
Dan mungkin, ini bukan sekadar soal keberangkatan haji… tapi tentang bagaimana Kulon Progo perlahan menemukan posisinya di peta yang lebih besar.
Masjid dan Masa Depan yang Sedang Dibangun
Masjid Al-Hadid sendiri kini tengah berkembang. Pembangunan gedung dua lantai di sisi barat menjadi simbol bahwa harapan itu benar-benar sedang dikerjakan, bukan sekadar wacana.
Meski baru mencapai tahap awal, semangat gotong royong warga menjadi energi utama di balik proses tersebut.
Jika ditarik lebih jauh, apa yang terjadi di Sentolo bukanlah peristiwa tunggal. Ini sejalan dengan berbagai upaya penguatan kampung berbasis nilai, seperti geliat kampung wisata dan gerakan sosial berbasis komunitas di wilayah Jogja lainnya.
Satu hal yang terasa kuat, masa depan tidak selalu dibangun dari proyek besar. Kadang, ia tumbuh dari ruang-ruang sederhana yang dijaga bersama. (Oi)
Sumber: Kulonprogokab.go.id













