Sleman, Voicejogja.com – Pagi itu, aroma jajanan tradisional bercampur suara obrolan warga memenuhi Lapangan Pemda Sleman. Terlihat seperti pasar biasa, ramai, hangat, dan akrab.
Namun di balik keramaian itu, ada satu kegelisahan yang pelan-pelan mengemuka: tentang identitas yang mulai memudar tanpa disadari.
Ruang yang Lebih dari Sekadar Pasar
Pemerintah Kabupaten Sleman kembali menggelar Pasar Bela Negara edisi ke-24, Jumat (10/4/2026). Kegiatan yang rutin hadir setiap pekan ini tak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang bertemunya nilai dan kesadaran kebangsaan.
Diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman bersama Carya Budhi Chantya, kegiatan ini menghadirkan kuliner tradisional, layanan perizinan gratis, hingga bazar hasil bumi tanpa biaya.
Terlihat sederhana, tapi di situlah letak kekuatannya, ekonomi rakyat berjalan, sambil nilai kebangsaan disisipkan secara halus.
Baca Juga: Tanam Pohon dan Tebar Ikan Jadi Agenda ALGOJO
Ketika Identitas Mulai Tak Terasa Hilang
Salah satu momen yang menyita perhatian adalah talkshow bertema “Merawat Kebhinekaan, Cinta Tanah Air, dan Bela Negara”. Dua narasumber dari Duta Pancasila Paskibraka Indonesia hadir, membawa perspektif yang lebih dalam dari sekadar seremoni.
Kintan Dewinta Putri menyoroti fenomena yang mulai terasa di banyak keluarga, bahasa Jawa yang kian jarang terdengar di rumah.
“Bahasa adalah pintu masuk budaya. Jika tidak dibiasakan sejak dini, maka identitas itu perlahan akan hilang,” ujarnya.
Kalimat itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang sering luput disadari banyak orang.
Banyak warga tak menyadari, hilangnya budaya sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan pelan, nyaris tanpa terasa.
Generasi Muda dan Beban yang Tak Terlihat
Senada, Sauzan Fadhila Zain menegaskan bahwa generasi muda memegang peran penting dalam menjaga nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa.
Melalui peran DPPI sebagai mitra Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, para purna Paskibraka didorong menjadi teladan nyata di tengah masyarakat.
Namun pertanyaannya, apakah ruang-ruang seperti ini cukup untuk menahan arus globalisasi yang begitu deras?
Di titik ini, Pasar Bela Negara terasa bukan hanya sebagai kegiatan, melainkan upaya kecil melawan lupa.
Antara Perut yang Kenyang dan Jiwa yang Terjaga
Di sisi lain, aktivitas ekonomi tetap berjalan. Warga datang, membeli, berinteraksi, dan menghidupkan roda ekonomi lokal.
Dampaknya nyata, pelaku UMKM terbantu, akses layanan publik menjadi lebih dekat, dan ruang sosial kembali hidup.
Namun ada lapisan lain yang tak kalah penting: kesadaran kolektif tentang siapa kita sebagai bangsa.
Satu hal yang jarang dibahas, ketahanan budaya sering kali tidak dibangun di ruang formal, tetapi justru di tempat-tempat sederhana seperti ini.
Perspektif Budaya: Alarm yang Perlu Didengar
Pengamat budaya Yogyakarta, Supriyadi S.Fill, melihat fenomena ini sebagai sinyal penting yang tak boleh diabaikan.
Menurutnya, ruang-ruang publik seperti Pasar Bela Negara memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan antara modernitas dan akar budaya.
“Ketika budaya tidak lagi hadir dalam keseharian, maka identitas akan bergeser tanpa kita sadari. Kegiatan seperti ini penting, karena menghidupkan nilai, bukan sekadar mengingatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kekuatan budaya Jawa justru terletak pada kebiasaan kecil, bahasa, interaksi, dan ruang kebersamaan.
Dan ketika itu mulai hilang, dampaknya tidak langsung terasa, tetapi perlahan membentuk generasi yang tercerabut dari akarnya.
Baca Juga: Bupati Gunungkidul Bantu Korban Gagar Otak
Arah yang Sedang Dibentuk
Melalui penyelenggaraan rutin ini, Pemkab Sleman berharap Pasar Bela Negara bisa terus berkembang sebagai ruang publik yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga kuat secara identitas.
Seperti halnya berbagai upaya pelestarian budaya di kampung-kampung wisata Jogja, atau gerakan penggunaan bahasa Jawa di lingkungan keluarga, langkah ini menjadi bagian dari mozaik yang lebih besar.
Namun satu hal yang tersisa, apakah kesadaran ini akan tumbuh bersama, atau justru berhenti di ruang-ruang acara? (Oi)
Sumber: Infopublik.id













