Gunungkidul, Voicejogja.com – Di sebuah rumah di Desa Surodadi, keseharian berjalan dengan ritme yang berbeda. Perawatan panjang, kebutuhan harian, dan perjalanan rutin ke rumah sakit menjadi bagian hidup yang tak mudah dijalani keluarga Dik Ida.
Kunjungan Bupati Gunungkidul membawa lebih dari sekadar bantuan, ia membuka jalan agar akses transportasi medis dan penanganan korban kecelakaan bisa lebih pasti bagi warga.
Perjalanan Panjang Pemulihan
Dik Ida, warga Kalurahan Umbulrejo, mengalami kecelakaan berat pada 2023 yang mengubah hidupnya. Gegar otak berat dan cedera serius membuatnya sempat koma lebih dari satu bulan setelah dirawat di RS Bethesda.
Dalam masa pemulihan, ia bergantung pada selang sonde selama delapan bulan sebelum beralih ke makanan lunak. Hingga kini, kontrol rutin ke dokter spesialis saraf masih menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
Kondisi ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga ketahanan keluarga dalam merawat dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Transportasi Medis yang Jadi Kunci
Selama tiga tahun terakhir, persoalan transportasi menjadi tantangan utama. Jadwal ambulans yang tidak selalu tersedia memaksa keluarga mencari alternatif, termasuk menyewa kendaraan dari tetangga.
Situasi ini mendapat perhatian langsung dari Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. Ia menegaskan bahwa mobilitas pasien tidak boleh menjadi hambatan dalam proses pemulihan.
“Jika untuk alat transportasi kontrol, saya rasa tidak menjadi persoalan,” tegasnya.
Puskesmas Ponjong disebut siap melakukan penjemputan, bahkan disiapkan ambulans antar-jemput khusus untuk memastikan akses layanan kesehatan tetap terjaga.
Mengurai Hambatan Klaim dan Pendampingan
Selain kebutuhan medis, keluarga juga menghadapi kendala dalam pengurusan klaim Jasa Raharja terkait kondisi cacat permanen yang dialami Dik Ida.
Berkas yang telah diajukan dinilai belum lengkap di tingkat pusat, meski keluarga merasa telah mengikuti arahan dari rumah sakit. Kondisi ini menambah beban di tengah proses pemulihan yang panjang.
Bupati meminta perhatian langsung agar proses ini dapat segera ditindaklanjuti, sekaligus melibatkan aparat terkait untuk mengawal hak korban.
“Kami meminta masyarakat apabila ada hal-hal serupa untuk melaporkan pada penegak hukum,” menjadi penegasan penting agar kasus serupa tidak terulang tanpa pendampingan.
Kepedulian yang Tidak Menunggu Viral
Dalam kunjungan tersebut, bantuan berupa kursi roda, bahan pangan, dan kebutuhan harian diserahkan untuk mendukung perawatan Dik Ida.
Lebih dari itu, ada pesan yang disampaikan kepada para lurah dan perangkat desa agar lebih peka terhadap kondisi warganya. Kehadiran pemerintah diharapkan tidak menunggu kasus menjadi ramai, tetapi hadir sejak awal kebutuhan muncul.
Bagi keluarga, kunjungan ini menjadi titik terang setelah menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari transportasi hingga birokrasi administrasi.
Menjaga Rasa Aman di Jalan dan Kehidupan
Di balik satu kasus, ada pelajaran yang lebih luas bagi masyarakat Gunungkidul. Kecelakaan lalu lintas tidak hanya berdampak sesaat, tetapi bisa mengubah kehidupan dalam jangka panjang
Upaya menghadirkan akses medis yang lebih mudah dan pendampingan yang lebih cepat menjadi bagian dari tanggung jawab bersama, agar warga tidak berjalan sendiri menghadapi situasi sulit.
Ketika satu keluarga mendapatkan perhatian, yang sedang dijaga bukan hanya kesehatan, tetapi juga rasa aman bahwa Gunungkidul hadir untuk warganya. (Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id













