Bantul, Voicejogja.com – Suasana hangat terasa dalam peringatan HUT ke-62 PERIP di Yogyakarta. Tawa, pentas seni, dan pertemuan lintas daerah menjadi ruang sederhana yang memperlihatkan kuatnya ikatan kebersamaan perempuan di balik perjalanan panjang pengabdian.
Bagi banyak keluarga purnawirawan, momen ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga cara menjaga nilai kebersamaan yang terus hidup di tengah masyarakat Jogja.
Ruang Temu yang Menyatukan
Peringatan Dirgahayu ke-62 Persatuan Istri Purnawirawan (PERIP) berlangsung meriah pada Kamis, 23 April 2026. Anggota dari berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta hadir, membawa cerita dan pengalaman dari daerah masing-masing.
Dari Bantul, Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, hingga Kota Yogyakarta, kebersamaan terasa dalam satu ruang yang mempertemukan lintas generasi.
Beragam pentas seni yang ditampilkan menjadi cerminan kekompakan. Tidak sekadar hiburan, setiap penampilan membawa semangat kebersamaan yang tumbuh dari relasi panjang antaranggota.
Simbol Syukur dan Harapan
Di tengah rangkaian acara, prosesi pemotongan tumpeng menjadi momen yang paling dinanti. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan organisasi yang telah melewati lebih dari enam dekade.
Lebih dari itu, tumpeng menjadi pengingat akan harapan agar PERIP terus tumbuh dan memberi manfaat, tidak hanya bagi anggotanya, tetapi juga masyarakat luas.
Kehadiran organisasi seperti PERIP di Jogja memiliki makna tersendiri, terutama dalam menjaga nilai kekeluargaan yang menjadi fondasi kehidupan sosial.
Peran Sosial yang Terus Dijaga
Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten Bantul melalui sambutan Bupati yang dibacakan oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Hermawan Setiaji.
“Usia 62 tahun mencerminkan kematangan, ketangguhan, dan kesiapan dalam mendampingi para purnawirawan serta berkontribusi bagi masyarakat,” ujarnya.
PERIP dinilai memiliki potensi besar sebagai mitra strategis dalam mendukung pembangunan daerah, sekaligus menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah masyarakat.
Peran ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan sosial, ketika solidaritas komunitas menjadi salah satu penopang penting kehidupan warga.
Menjaga Nyala Kebersamaan di Jogja
Bagi Yogyakarta, organisasi seperti PERIP bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial yang terus bergerak.
Di balik perayaan sederhana, tersimpan komitmen panjang untuk tetap hadir, merawat kebersamaan, dan memberi kontribusi nyata.
Penutup
Di usia yang semakin matang, PERIP menunjukkan bahwa kebersamaan bukan sekadar kenangan, melainkan kekuatan yang terus hidup dan relevan bagi masa depan Jogja.(Oi)













