Scroll untuk baca artikel
DaerahFavorite

Gotong Royong Gunungkidul Perkuat Infrastruktur Desa

×

Gotong Royong Gunungkidul Perkuat Infrastruktur Desa

Sebarkan artikel ini

Dari jalan kampung hingga aliran air, warga ikut menentukan arah pembangunan

Gotong royong di Gunungkidul perkuat infrastruktur desa, dari jalan hingga saluran air, di tengah keterbatasan anggaran. Foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Gunungkidul, Voicejogja.com – Di tengah keterbatasan anggaran desa, warga di sejumlah kalurahan di Gunungkidul memilih tetap bergerak. Jalan diperbaiki bersama, saluran air ditata, dan semangat gotong royong kembali terasa sebagai kekuatan yang nyata.

Bagi banyak keluarga di wilayah selatan Yogyakarta ini, pembangunan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi proses kebersamaan yang menjaga keberlanjutan hidup desa.

Gotong Royong Jadi Nafas Pembangunan

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, memimpin roadshow gotong royong di Kapanewon Tanjungsari. Kegiatan ini menyasar Padukuhan Padangan di Kalurahan Banjarejo, Padukuhan Mrico di Kalurahan Ngestirejo, serta Padukuhan Jrakah di Kalurahan Hargosari.

Di hadapan warga, ia menegaskan bahwa gotong royong adalah inti nilai Pancasila, yang hidup dalam kerja bersama untuk kepentingan umum.

Gotong royong ini adalah sarana agar warga memiliki rasa handarbeni atau rasa memiliki. Jika kita ikut mengerjakan, maka kita akan menjaga fasilitas tersebut,” ujarnya.

Nilai ini menjadi semakin penting di tengah kebijakan efisiensi Dana Desa, yang membuat partisipasi warga menjadi kunci keberlanjutan pembangunan.

Dari Jalan Desa hingga Akses Air

Di Padukuhan Mrico, Kalurahan Ngestirejo, warga bersama pemerintah melakukan pengecoran jalan sepanjang 101 meter dengan lebar 3 meter. Infrastruktur sederhana ini menjadi penghubung penting aktivitas harian warga.

Lurah Ngestirejo, Wahyu Suhendri, menyebut program ini sangat membantu di tengah keterbatasan anggaran. Warga ikut berkontribusi melalui tenaga dan material seperti pasir serta semen.

Sementara di Padukuhan Jrakah, Kalurahan Hargosari, pembangunan difokuskan pada pengarah arus air sepanjang 85 meter. Infrastruktur ini diharapkan mampu mencegah genangan saat musim hujan.

Langkah-langkah kecil ini menjadi bagian dari upaya besar menjaga ketahanan desa, baik dari sisi mobilitas maupun pengelolaan lingkungan.

Partisipasi Warga Jadi Kekuatan Utama

Kehadiran warga dalam proses pembangunan menjadi pemandangan yang tidak terpisahkan. Di Ngestirejo, seniman lokal yang dikenal sebagai Mbah Baut turut terlibat langsung dalam kegiatan gotong royong.

“Selain jalan desa menjadi bagus, ini juga melestarikan budaya gotong royong di pedesaan,” ujarnya.

Keterlibatan berbagai lapisan masyarakat menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada kebijakan, tetapi juga pada kesadaran kolektif.

Bupati Gunungkidul juga menegaskan komitmennya untuk mengembalikan peningkatan pendapatan dari sektor wisata kepada masyarakat dalam bentuk pembangunan infrastruktur yang lebih luas.

“Saya berharap peningkatan ekonomi ini dapat dirasakan langsung oleh warga melalui perbaikan fasilitas publik di setiap dusun,” ungkapnya.

Menjaga Arah Pembangunan Desa

Di tengah perubahan dan tekanan anggaran, gotong royong kembali menjadi fondasi yang menguatkan desa-desa di Gunungkidul. Dari jalan yang dicor bersama hingga saluran air yang dibangun, semua menjadi simbol ketahanan yang tumbuh dari bawah.

Bagi Yogyakarta, semangat ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga strategi masa depan. Ketika warga merasa memiliki, pembangunan tidak berhenti pada proyek, melainkan berlanjut menjadi tanggung jawab bersama yang terus dijaga(Oi)

Sumber: Gunungkidulkab.go.id