Jakarta, Voicejogja.com – Ruang-ruang yang selama ini hanya terlihat di layar kini berdiri nyata di depan mata. Bagi pelajar, pengalaman seperti ini bukan sekadar kunjungan, melainkan momen yang bisa mengubah cara memandang negara dan masa depan mereka.
Semangat itu terasa dari kisah dua pelajar kembar, Theadora Kennisya Naftali dan Theodora Keisya Zefanya, yang untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Istana Kepresidenan Jakarta. Bersama ratusan siswa lain, mereka membawa pulang lebih dari sekadar cerita, melainkan inspirasi.
Ketika Istana Menjadi Ruang Belajar
Kamis, 23 April 2026, menjadi hari yang tak mudah dilupakan. Sekitar 300 siswa SMA Negeri 2 Jakarta berkesempatan melihat langsung ruang kerja Presiden, ruang rapat kabinet, hingga area penerimaan tamu negara.
“Tentunya buat pelajar seperti kami, ini pengalaman baru. Sungguh amaze karena tempatnya kinclong dan besar sekali,” ujar Keisya.
Kennisya menambahkan, banyak ruang yang sebelumnya hanya diketahui lewat internet kini bisa dilihat langsung. Pengalaman ini membuka pemahaman baru tentang bagaimana negara dijalankan dari dalam.
Belajar Negara, Bukan Sekadar Teori
Tak hanya melihat ruang fisik, para pelajar juga mendapatkan penjelasan tentang sistem pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming.
Bagi Keisya, pengalaman ini memberi bekal penting sebagai generasi penerus. Ia melihat langsung bagaimana peran pemimpin negara dan bagaimana proses pengambilan keputusan berlangsung.
“Ini menjadi bekal kami sebagai anak bangsa untuk menuju Indonesia Emas melalui generasi muda,” katanya.
Seni dan Sejarah yang Menghidupkan Ruang
Di balik fungsi kenegaraan, Istana juga menyimpan kekayaan seni yang menarik perhatian. Kennisya dan Keisya mengaku terkesan dengan lukisan dan ornamen yang menghiasi dinding.
Mereka mendapatkan penjelasan tentang sejarah serta filosofi di balik karya-karya tersebut. Bagi pelajar yang menekuni seni rupa, pengalaman ini terasa lebih dekat dan bermakna.
“Kami bisa mengamati langsung lukisan yang selama ini dipelajari. Ternyata karya itu benar-benar ada di sini,” ungkap mereka.
Harapan untuk Akses yang Lebih Luas
Pengalaman ini juga menumbuhkan mimpi baru. Keisya mengaku tertarik menjadi Menteri Kebudayaan agar bisa ikut menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat diperluas, tidak hanya di Istana tetapi juga di kementerian dan lembaga lain. Bagi pelajar, akses seperti ini dinilai penting untuk membuka wawasan sejak dini.
Bagi Jogja yang dikenal sebagai kota pendidikan dan budaya, semangat membuka ruang belajar seperti ini menjadi relevan. Anak-anak muda tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari pengalaman langsung yang membentuk cara berpikir mereka.
Kesempatan melihat negara dari dekat, memahami sejarah, dan merasakan nilai budaya menjadi bekal penting untuk masa depan. Dari pengalaman seperti inilah, kesadaran sebagai bagian dari bangsa tumbuh, pelan, tapi kuat.(Oi)
Sumber: Setneg













