Gunungkidul, Voicejogja.com – Di bawah pendapa Bangsal Sewoko Projo, langkah baru untuk kesehatan warga mulai dirangkai. Pengukuhan KORMI Gunungkidul membawa harapan agar olahraga tak lagi sekadar kegiatan sesekali, melainkan bagian dari keseharian.
Bagi masyarakat, perubahan ini menyentuh hal sederhana namun penting, cara menjaga tubuh tetap aktif di tengah pola hidup yang kian pasif.
Olahraga sebagai Bagian Hidup Warga
Kepengurusan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Gunungkidul masa bakti 2026–2030 resmi dikukuhkan pada Kamis (9/4/2026). Pengukuhan ini menjadi titik awal penguatan peran olahraga masyarakat dalam pembangunan kualitas hidup.
Dasarnya tertuang dalam Surat Keputusan Ketua KORMI Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 003/SK/KORMI.DIY/II/2026 yang sebelumnya telah ditandatangani oleh Kadarmanta Baskara Aji.
Momentum ini menegaskan bahwa olahraga tidak lagi ditempatkan sebagai aktivitas tambahan, tetapi sebagai kebutuhan yang melekat dalam kehidupan warga Gunungkidul.
Dari Kesehatan hingga Kohesi Sosial
Di ruang yang sarat nilai sejarah itu, olahraga dipahami dalam makna yang lebih luas. Bukan hanya soal kebugaran, tetapi juga ruang bertemu, memperkuat kebersamaan, hingga membuka peluang ekonomi.
Gaya hidup modern yang cenderung minim aktivitas fisik menjadi tantangan yang ingin dijawab. KORMI hadir sebagai penggerak agar masyarakat kembali aktif, sekaligus mengurangi risiko penyakit tidak menular.
Di titik ini, olahraga menjadi jembatan antara kesehatan individu dan kekuatan sosial di tingkat komunitas.
Kolaborasi Lintas Sektor
Struktur kepengurusan periode ini mencerminkan upaya kolaborasi yang luas. Posisi pelindung diisi oleh Bupati dan Ketua DPRD Kabupaten Gunungkidul, dengan dukungan lintas sektor mulai dari perencanaan, keuangan, pariwisata, hingga kesehatan.
Secara operasional, organisasi dipimpin oleh Heri Nugroho sebagai ketua, didampingi Bambang Sutrisno.
Struktur ini diperkuat dengan komisi-komisi yang menyasar kebutuhan spesifik, mulai dari olahraga tradisional, kebugaran, hingga olahraga petualangan yang memanfaatkan karakter alam Gunungkidul.
Menjangkau Dusun dan Komunitas
Tantangan berikutnya bergerak ke tingkat akar rumput. Di wilayah dengan bentang karst dan garis pantai selatan yang khas, Gunungkidul menyimpan potensi besar sebagai ruang hidup sekaligus ruang olahraga.
Festival olahraga tradisional dan kegiatan berbasis komunitas diharapkan kembali hidup. Bukan sekadar acara, tetapi menjadi kebiasaan yang tumbuh dari warga sendiri.
Keterlibatan komunitas menjadi kunci agar gerakan ini tidak berhenti di seremoni, melainkan benar-benar hadir dalam rutinitas masyarakat.
Arah Baru untuk Gunungkidul yang Lebih Aktif
Dengan masa bakti hingga 2030, KORMI Gunungkidul memikul harapan untuk menghadirkan masyarakat yang lebih aktif secara budaya dan fisik.
Di tengah perubahan gaya hidup, arah ini menjadi penting agar kesehatan tidak hanya dijaga saat sakit, tetapi dirawat sejak keseharian.
Pengukuhan ini membuka jalan bagi perubahan cara pandang, bahwa olahraga bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar yang tumbuh bersama kehidupan warga Gunungkidul. (Oi)
Sumber: Gunungkidulkab.go.id













