Yogyakarta, Voicejogja.com – Nyala lilin di Gereja Kristen Jawa Gondokusuman perlahan menerangi wajah-wajah yang larut dalam doa. Dalam hening Sabtu Sunyi, suasana terasa hangat, seolah memberi ruang bagi harapan untuk tumbuh di tengah kehidupan yang terus bergerak.
Di kota yang hidup dari keberagaman seperti Yogyakarta, momen ini bukan sekadar perayaan iman. Ada nilai yang dijaga bersama: tentang persatuan, tentang cara manusia saling menguatkan di tengah perbedaan.
Paskah sebagai Ruang Refleksi Bersama
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, hadir membersamai jemaat dalam Kebaktian Paskah Sabtu Sunyi. Kehadirannya menjadi penanda bahwa ruang spiritual dan ruang publik bisa saling menyapa dalam satu nilai kemanusiaan.
“Malam ini kami sangat senang sekali dapat membersamai jemaat GKJ Gondokusuman dalam Kebaktian Paskah Sabtu Sunyi,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat merayakan Tri Hari Suci Paskah 2026, dari Kamis Putih hingga Minggu Paskah.
Pesan Universal di Tengah Dinamika Kota
Bagi Wawan, Paskah membawa makna yang melampaui batas perayaan keagamaan. Ia melihatnya sebagai refleksi tentang kehidupan yang terus bergerak di antara harapan dan tantangan.
“Paskah juga membawa pesan universal. Di tengah penderitaan selalu ada harapan, di tengah perpecahan selalu ada jalan menuju persatuan, dan di tengah kegelapan selalu ada cahaya keilahian yang menuntun umat manusia,” tuturnya.
Pesan ini terasa dekat dengan realitas Jogja yang majemuk. Kota ini tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga nilai-nilai yang menjaga harmoni sosial.
Peran Rumah Ibadah dalam Wajah Kota
Pemerintah Kota Yogyakarta membuka ruang kolaborasi dengan pengelola tempat ibadah. Rumah ibadah dipandang tidak hanya sebagai pusat spiritual, tetapi juga bagian dari wajah kota yang ramah dan inklusif.
Menurut Wawan, banyak wisatawan datang ke Yogyakarta tidak hanya untuk berlibur, tetapi juga untuk beribadah. Hal ini menjadi potensi yang bisa dikelola bersama sebagai bagian dari daya tarik kota.
Upaya tersebut berjalan seiring dengan peningkatan pelayanan publik, mulai dari pengelolaan kebersihan hingga penataan ruang kota yang nyaman bagi semua.
Jejak Panjang dan Keteguhan Iman
Ketua Majelis GKJ Gondokusuman, Purnawan Hardiyanto, menyambut kehadiran pemerintah sebagai bentuk perhatian terhadap kehidupan beragama di kota ini.
Ia juga mengingatkan bahwa gereja tersebut telah menapaki perjalanan panjang. Tahun ini, GKJ Gondokusuman memasuki usia ke-113, menjadikannya salah satu gereja tertua kedua di Yogyakarta.
Dalam rentang waktu itu, gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sejarah sosial kota yang terus hidup bersama warganya.
Paskah di Jogja pada akhirnya bukan hanya tentang perayaan, melainkan tentang bagaimana harapan dan persatuan terus dirawat, dari ruang-ruang hening hingga kehidupan sehari-hari warga kota. (Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id













