Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah perubahan zaman, masyarakat Yogyakarta masih menyimpan cara lama dalam membaca kepemimpinan: lewat weton dan laku batin. Bagi sebagian warga, pemimpin bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang sudah “dititipkan” sejak lahir.
Filosofi ini dikenal sebagai “Gawan Bayi”, sebuah pandangan bahwa kepemimpinan sejati tumbuh dari dalam, bukan dibentuk oleh kekuasaan.
Kepemimpinan yang Tumbuh dari Batin
Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan kerap dimaknai sebagai “pulung” atau wahyu. Ia tidak datang dari ambisi, melainkan dari kesiapan batin seseorang untuk mengemban tanggung jawab sosial.
Naskah seperti Primbon Betaljemur Adammakna dan Serat Raja Kapa-kapa menggambarkan adanya tanda-tanda khusus pada weton tertentu yang dipercaya memiliki potensi memimpin.
Karakter ini dikenal sebagai “Wibawa Pinandhita”, yakni kewibawaan yang lahir tanpa paksaan. Sosoknya tidak mendominasi, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa tenang dan percaya.
Weton dengan Energi Kepemimpinan
Beberapa weton disebut memiliki kecenderungan kuat dalam kepemimpinan alami. Sabtu Pon misalnya, diibaratkan seperti pohon beringin yang menaungi.
Kamis Wage dikenal memimpin melalui keteladanan, bekerja langsung tanpa menjaga jarak. Sementara Jumat Kliwon memiliki kekuatan visi yang mampu menggerakkan banyak orang.
Rabu Pahing membawa karakter luas dan visioner, dengan kemampuan membaca arah masa depan. Dalam konteks sosial Jogja, nilai-nilai ini sering kali hadir dalam figur-figur pemimpin komunitas, pelaku usaha, hingga tokoh lokal.
Ciri Pemimpin dalam Filosofi Jawa
Manuskrip kuno menggambarkan pemimpin alami sebagai sosok dengan ucapan yang berbobot, rendah hati, dan tajam dalam mengambil keputusan.
Mereka tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga matang secara batin. Sikap andhap asor atau rendah hati menjadi kunci, terutama dalam relasi dengan masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari di Yogyakarta, karakter ini terasa dekat. Pemimpin yang dihormati bukan yang paling keras, melainkan yang mampu mendengar dan hadir di tengah warga.
Kepemimpinan sebagai Amanah Sosial
Budayawan Yogyakarta, Supriyadi, S.Fil., memaknai kepemimpinan Gawan Bayi sebagai kesiapan menjadi wadah bagi harapan masyarakat.
“Pemimpin alami itu bukan soal ambisi, tapi kesiapan menanggung harapan banyak orang. Ada energi prabawa yang membuat orang merasa aman,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kekuatan ini harus dijaga dengan keadilan batin. Ketika kepemimpinan digunakan untuk kepentingan pribadi, nilai itu bisa luntur.
Relevansi bagi Masa Depan Jogja
Ajaran Hastabrata dalam tradisi Jawa juga menjadi fondasi penting. Pemimpin ideal diharapkan mampu meneladani sifat alam: kokoh, meneduhkan, luas, dan memberi.
Di tengah dinamika modern, nilai ini tetap relevan. Jogja tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cerdas, tetapi juga yang mampu menjaga keseimbangan antara kuasa dan empati.
Filosofi seperti Tapa Ngeli (mengikuti arus tanpa hanyut) menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah proses menjaga diri di tengah perubahan.
Penutup
Di Yogyakarta, kepemimpinan tidak pernah lepas dari akar budaya. Weton mungkin hanya penanda, tetapi kejujuran hati dan laku hiduplah yang menentukan arah seorang pemimpin dalam membawa masyarakat menuju kebaikan bersama.(Oi)













