Scroll untuk baca artikel
Nasional

Antisipasi El Nino 2026, OMC Diperkuat Cegah Karhutla

×

Antisipasi El Nino 2026, OMC Diperkuat Cegah Karhutla

Sebarkan artikel ini

Langkah pencegahan dini jadi kunci menjaga ruang hidup

Antisipasi El Nino 2026, Kemenhut dan BMKG perkuat OMC untuk cegah karhutla dan lindungi kualitas udara masyarakat. foto: Dok Kehutanan

Jakarta, Voicejogja.com – Ketika musim kering datang lebih panjang, ancaman kebakaran hutan bukan sekadar kabar jauh—ia bisa berdampak pada kualitas udara hingga kehidupan sehari-hari warga. Antisipasi El Nino 2026 kini diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca untuk mencegah karhutla sejak dini.

Upaya ini menjadi penting bagi daerah seperti Yogyakarta yang kerap merasakan dampak tidak langsung, mulai dari penurunan kualitas udara hingga gangguan aktivitas masyarakat.

Fokus pada Pencegahan Sejak Awal

Kementerian Kehutanan bersama BMKG resmi memperkuat kerja sama strategis melalui penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta. Kolaborasi ini diarahkan untuk menghadapi potensi El Nino yang diprediksi muncul pada semester kedua tahun ini.

Salah satu langkah utama adalah optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca yang saat ini telah berjalan di Riau dan Kalimantan Barat sebagai bagian dari deteksi dini.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pendekatan pencegahan menjadi kunci dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Jika tinggi muka air tanah turun, terutama di lahan gambut, kita segera lakukan pembasahan kembali melalui OMC,” ujarnya.

Belajar dari Krisis, Menguatkan Sistem

Penguatan strategi ini tidak lepas dari pengalaman panjang Indonesia menghadapi kebakaran besar, terutama sejak 2015. Dalam beberapa tahun terakhir, luas kebakaran tercatat terus menurun, menunjukkan adanya perbaikan sistem dan koordinasi.

Peran data presisi dari BMKG menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko tersebut. Integrasi data memungkinkan langkah antisipatif dilakukan sebelum kebakaran meluas.

“Tahun ini tantangannya lebih besar karena adanya ancaman El Nino. Intervensi seperti ketepatan data dan OMC akan sangat menentukan,” kata Raja Juli Antoni.

Integrasi Data dan Teknologi Lapangan

BMKG menegaskan bahwa pendekatan yang diambil tidak lagi berfokus pada pemadaman semata, tetapi pada pencegahan berbasis data. Prediksi musim kemarau yang lebih panjang menjadi dasar penguatan sistem ini.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyebut integrasi data sebagai kunci untuk membaca potensi titik rawan sejak awal.

“Kami tidak hanya bekerja saat api sudah muncul, tetapi memperkuat langkah preventif melalui data yang terintegrasi,” ujarnya.

Selain itu, pemasangan alat operasional dan sensor meteorologi di kawasan hutan juga terus ditingkatkan untuk memastikan akurasi informasi iklim.

Dampak Luas dan Relevansi bagi Jogja

Meski pusat kebakaran berada di wilayah tertentu, dampaknya sering kali meluas hingga lintas daerah. Asap, gangguan kesehatan, hingga aktivitas ekonomi menjadi risiko yang bisa dirasakan masyarakat luas, termasuk di Yogyakarta.

Karena itu, langkah pencegahan menjadi kepentingan bersama. Keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat, menjadi fondasi penting dalam menjaga ruang hidup tetap aman.

Penguatan operasi modifikasi cuaca dan integrasi data bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang menjaga kualitas hidup warga di masa depan.(Oi)

Sumber: Kehutanan.go.id