Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanFavoriteLifestyleNasional

Waspada TB Ekstra Paru, Kenali Gejalanya Sejak Dini

×

Waspada TB Ekstra Paru, Kenali Gejalanya Sejak Dini

Sebarkan artikel ini

Dari benjolan leher hingga berat badan turun, sinyal yang kerap diabaikan

Waspada TB ekstra paru dengan gejala benjolan leher dan berat badan turun. Kenali tanda sejak dini untuk cegah risiko. foto: Dok Kemenkes

Jakarta, Voicejogja.com – Perubahan kecil pada tubuh sering terasa sepele, benjolan di leher, tubuh mudah lelah, atau berat badan yang turun tanpa sebab jelas. Namun bagi sebagian orang, itu bisa menjadi tanda awal TB ekstra paru yang kerap luput dikenali.

Bagi warga Jogja, memahami gejala TB sejak dini bukan hanya soal kesehatan pribadi, tetapi juga tentang melindungi keluarga dari risiko yang lebih besar.

Tuberkulosis (TB) tidak hanya menyerang paru-paru. Dalam sejumlah kasus, penyakit ini juga dapat mengenai organ lain seperti tulang, kelenjar, usus, kulit, ginjal, hingga tiroid.

Dokter spesialis paru, Erlina Burhan, menjelaskan bahwa sekitar 85 persen kasus TB terjadi di paru, sementara 15–20 persen lainnya termasuk TB ekstra paru.

“TB tidak hanya ada di paru. Bisa ditemukan di tulang, otot, usus, ginjal, jantung, kulit, dan kelenjar,” ujarnya.

Gejala yang Sering Dianggap Biasa

Kuman TB yang sangat kecil dapat masuk melalui udara ke paru-paru, lalu dalam kondisi tertentu menyebar melalui aliran darah atau saluran limfe ke organ lain.

Gejala TB ekstra paru bergantung pada bagian tubuh yang terdampak. Pada TB tulang, keluhan sering berupa nyeri di punggung atau tulang belakang.

Sementara pada TB kelenjar, tanda yang muncul biasanya benjolan di leher, ketiak, atau selangkangan. Pada TB tiroid, benjolan muncul di bagian depan leher dan bisa disertai sulit menelan hingga suara serak.

Meski berbeda lokasi, ada gejala umum yang kerap muncul, seperti demam hilang timbul, nafsu makan menurun, berat badan turun drastis, tubuh mudah lelah, dan keringat malam.

“Yang sering membuat masyarakat terlambat berobat adalah gejala ini dianggap normal,” jelas Erlina.

Cerita Penyintas: Turun 32 Kilogram

Dalam pengalaman yang dibagikan, seorang penyintas bernama Desi mengaku mulai curiga setelah berat badannya turun drastis pascamelahirkan.

“Berat badan saya dari 65 kilogram turun sampai 32 kilogram hanya dalam waktu sekitar sebulan,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga mengalami benjolan di leher yang terus membesar. Setelah pemeriksaan, ia didiagnosis TB tiroid dan TB paru resisten obat.

Selama pengobatan, Desi harus menjalani terapi hingga 24 bulan, mengonsumsi banyak obat setiap hari, serta menjalani suntikan rutin. Ia juga sempat harus terpisah dari bayinya selama enam bulan.

Penularan dan Harapan Pengobatan

TB paru menjadi jenis yang menular, terutama melalui percikan saat batuk. Sementara itu, sebagian besar TB ekstra paru tidak menular, kecuali pada kasus tertentu yang jarang terjadi.

Karena itu, penggunaan masker saat batuk tetap penting untuk mencegah penyebaran penyakit.

Kabar baiknya, pengobatan TB resisten obat kini lebih sederhana. Jika sebelumnya pasien bisa mengonsumsi hingga 18 tablet per hari dengan terapi suntik, kini tersedia pengobatan oral yang lebih singkat, sekitar enam bulan.

Namun, satu hal tetap tidak berubah: pengobatan harus dijalani sampai tuntas.

“Kalau berhenti sebelum waktunya, kuman bisa menjadi lebih kuat dan resisten,” tegas Erlina.

Dukungan yang Menentukan Kesembuhan

Di luar pengobatan, faktor lain yang tak kalah penting adalah dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar.

Stigma terhadap pasien TB masih menjadi tantangan. Padahal, dukungan justru menjadi kunci agar pasien mampu menjalani pengobatan hingga selesai.

Bagi Jogja yang dikenal sebagai kota dengan ikatan sosial kuat, kesadaran ini menjadi penting. Bahwa menjaga kesehatan bukan hanya urusan individu, tetapi juga tanggung jawab bersama, agar setiap warga bisa pulih tanpa rasa takut atau dikucilkan. (Oi)

Sumber: Infopublik.id