Scroll untuk baca artikel
FavoriteLifestyleNasional

Anak Down Syndrome Berhak Tumbuh Aman dan Setara

×

Anak Down Syndrome Berhak Tumbuh Aman dan Setara

Sebarkan artikel ini

Kesadaran inklusi jadi kunci masa depan ramah anak di Jogja

Pada akhirnya, masa depan Jogja tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi dari seberapa aman dan setara ruang yang diberikan bagi setiap anak, tanpa terkecuali. foto: KemenPPPA

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di banyak sudut kehidupan, anak dengan down syndrome masih kerap dipandang berbeda, padahal mereka tumbuh dengan harapan yang sama: dicintai, dihargai, dan dilindungi.

Isu ini tak jauh dari keseharian warga Jogja, yang dikenal sebagai kota dengan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial kuat.

Kesadaran tentang hak anak down syndrome menjadi penting, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan Jogja yang lebih inklusif dan manusiawi.

Hak Setara yang Tak Bisa Ditawar

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa anak dengan down syndrome adalah bagian utuh dari anak bangsa yang memiliki hak setara.

“Anak dengan down syndrome adalah anak-anak bangsa yang memiliki hak secara setara untuk dicintai, dihormati, dilindungi, dan diberi kesempatan untuk berkembang secara optimal,” ujarnya dalam sebuah webinar nasional.

Ia menekankan bahwa mereka bukan objek belas kasihan, melainkan individu dengan potensi, martabat, dan masa depan yang harus dijaga bersama.

Bayang-Bayang Kekerasan yang Masih Nyata

Di balik semangat inklusi, realitas yang dihadapi masih memprihatinkan. Anak dengan disabilitas, termasuk down syndrome, kerap menghadapi stigma, diskriminasi, hingga kekerasan.

Data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan, 83,85 persen anak usia 13–17 tahun penyandang disabilitas pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan.

Angka dalam satu tahun terakhir pun meningkat tajam, dari 36,10 persen menjadi 64,57 persen. Kondisi ini menandakan bahwa ruang aman bagi mereka masih jauh dari cukup.

Lingkungan Aman Dimulai dari Terdekat

Kerentanan anak dengan disabilitas tidak lepas dari keterbatasan komunikasi dan ketergantungan pada lingkungan sekitar. Di sisi lain, pemahaman masyarakat yang belum merata turut memperbesar risiko.

Karena itu, peran keluarga menjadi fondasi utama. Rumah diharapkan menjadi ruang aman pertama, sebelum anak melangkah ke sekolah dan ruang publik.

Sekolah, layanan publik, hingga ruang sosial di Jogja diharapkan terus bergerak menuju sistem yang inklusif dan bebas kekerasan.

Kolaborasi Jadi Kunci Perubahan

Upaya perlindungan tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi antara pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat menjadi langkah penting.

Program Manager Diversity, Equity, and Inclusion Workstream NLR Indonesia, Fahmi Arizal, menegaskan pentingnya perubahan cara pandang.

“Menjadi sahabat bagi anak dengan down syndrome bukan hanya tentang niat baik, tapi juga tentang pengetahuan, sikap, dan tindakan nyata yang konsisten,” ujarnya.

Pendekatan berbasis masyarakat yang dilakukan mencakup asesmen, pendampingan, hingga penguatan kapasitas orang tua dan pengasuh.

Jogja dan Masa Depan Inklusi

Bagi Jogja, isu ini bukan sekadar wacana nasional. Kota ini memiliki kekuatan sosial dan budaya yang dapat menjadi contoh ruang hidup inklusif.

Membangun lingkungan ramah anak dengan down syndrome berarti menjaga nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi napas Jogja.

Ketika keluarga, sekolah, dan masyarakat berjalan seiring, anak-anak ini tidak hanya terlindungi, tetapi juga diberi ruang untuk tumbuh, berdaya, dan berkontribusi. (Oi)

Sumber: Infopublik.id