Yogyakarta, Voicejogja.com – Di ruang hangat Masjid Jogokariyan, percakapan tentang masa depan Jogja terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Srawung Jogja menghadirkan satu pesan yang tak sederhana: kemajuan kota bertumpu pada akhlak, kesehatan mental, dan kualitas manusianya.
Bagi warga, ini bukan sekadar forum, tetapi cermin tentang arah Jogja ke depan, apakah tumbuh dengan nilai, atau kehilangan pijakan di tengah perubahan.
Baca Juga: Bantuan Pangan Kulon Progo Dipastikan Tepat Sasaran
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa kekuatan kota tidak terletak pada sumber daya alam, melainkan pada manusia yang mengisinya. Lebih dari sebagian besar daya dorong Jogja berasal dari kualitas sumber daya manusia.
“Kalau sumber daya manusianya kreatif, bermoral, dan berakhlak baik, insya Allah kita bisa maju. Tapi kalau tidak, akan sulit untuk berkembang,” ujarnya.
Pesan ini mengingatkan kembali bahwa pembangunan tidak hanya soal fisik. Nilai yang diwariskan para leluhur (membangun jiwa dan raga) menjadi dasar yang terus relevan.
Kesehatan Mental Jadi Tantangan Baru
Di tengah capaian penurunan stunting, muncul tantangan lain yang tak kalah serius. Gangguan mental emosional justru mengalami peningkatan.
“Sekarang ini, stunting turun, tapi gangguan mental meningkat. Angkanya naik dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen. Ini harus menjadi perhatian serius,” tegas Hasto.
Fenomena ini tidak selalu tampak secara kasat mata. Sikap merasa paling benar, sulit menerima pendapat, hingga perilaku toksik menjadi bagian dari persoalan yang mengganggu ruang sosial.
Kondisi ini perlahan memengaruhi kehidupan keluarga dan relasi sosial di masyarakat.
Keluarga dan Nilai Sosial yang Diuji
Tingginya angka perceraian menjadi salah satu dampak yang ikut disorot. Tekanan mental dan ketidaksiapan dalam mengelola relasi keluarga disebut sebagai faktor yang menguat.
“Sebagian besar pengajuan perceraian berasal dari pihak perempuan. Ini menjadi refleksi bahwa peran laki-laki sebagai pemimpin keluarga perlu diperkuat,” katanya.
Dalam konteks Jogja, keluarga bukan hanya ruang privat, tetapi fondasi sosial yang menentukan arah kehidupan kota secara lebih luas.
Ruang Dialog dan Arah Kebijakan
Forum Srawung Jogja dipandang sebagai ruang untuk merawat dialog dan memperkuat nilai kebersamaan. Dari ruang seperti inilah, arah pembangunan berbasis manusia terus dirawat.
Di sisi lain, kebijakan juga diarahkan untuk menjaga kesehatan dan moral masyarakat. Salah satunya melalui aturan terkait pelarangan minuman beralkohol yang segera disosialisasikan.
“Ini bagian dari ikhtiar kita menjaga kesehatan dan moral masyarakat Kota Yogyakarta,” pungkasnya.(Oi)











