Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah riuh mesin cetak dan warna-warna desain yang terus bergerak, Jogja Printing Expo menghadirkan gambaran baru tentang arah industri kreatif di Yogyakarta. Bagi pelaku usaha, ruang ini bukan sekadar pameran, tetapi peluang untuk bertahan dan tumbuh di tengah perubahan zaman.
Industri percetakan yang selama ini identik dengan media konvensional kini bergeser, dan Jogja berupaya menjawabnya dengan membuka jejaring serta memperluas pemasaran melalui Jogja Printing Expo 2026.
Ruang Bertemunya Ide dan Peluang
Pameran yang digelar di Jogja Expo Center ini mempertemukan pelaku usaha dengan teknologi terbaru, bahan baku, hingga potensi kolaborasi lintas sektor.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melihat momentum ini sebagai langkah penting bagi industri lokal.
“Pameran ini menjadi inisiatif penting dalam mendukung industri percetakan lokal di era digital. Selain mempertemukan pelaku usaha dengan teknologi dan bahan baku berkualitas, juga membuka peluang kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Konsep yang menggabungkan sektor percetakan, kemasan, serta makanan dan minuman memperlihatkan bagaimana rantai industri saling terhubung dalam satu ekosistem.
Pergeseran Arah Industri Cetak
Di tengah menurunnya permintaan media cetak konvensional, sektor kemasan justru menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Perubahan ini menjadi peluang baru bagi pelaku usaha di Yogyakarta untuk beradaptasi.
Jogja, dengan identitas sebagai kota kreatif, memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Keberadaan Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) turut membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
Potensi ini tidak hanya berhenti di dalam kota, tetapi juga membuka peluang kerja sama dengan daerah lain, memperluas jangkauan industri kreatif Jogja.
UMKM sebagai Penopang Utama
Struktur industri di Kota Yogyakarta yang didominasi UMKM menjadikan sektor percetakan sebagai bagian penting dalam perputaran ekonomi lokal.
Sekitar 80 persen pelaku di sektor ini berasal dari UMKM, sehingga dukungan terhadap mereka menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekonomi daerah.
Dalam pameran ini, sekitar 35 perusahaan dan 10 pelaku UMKM terlibat, menghadirkan produk serta teknologi yang semakin beragam.

Teknologi dan Adaptasi di Era Digital
CEO Krista Exhibitions Group, Daud Salim, menjelaskan bahwa pameran ini membawa berbagai inovasi teknologi dalam industri cetak.
“Pameran ini menampilkan teknologi cetak untuk berbagai media seperti kertas, tekstil, akrilik, logam, kulit hingga kayu. Semua yang membutuhkan kreativitas dan teknologi mesin modern kami hadirkan di sini,” jelasnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri percetakan tidak lagi terbatas pada kertas, tetapi meluas ke berbagai media yang mendukung industri kreatif secara keseluruhan.
Tantangan yang Tetap Dihadapi
Di balik peluang, tantangan tetap terasa. Penurunan permintaan cetakan konvensional serta meningkatnya biaya bahan baku menjadi tekanan bagi pelaku usaha kecil.
Ketua Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) DIY, Roni Sugiarto, menyoroti pentingnya dukungan agar industri ini tetap bertahan.
“Kami berharap ada perhatian khusus dari pemerintah agar industri percetakan kecil dapat bertahan dan berkembang, karena sektor ini juga menyerap banyak tenaga kerja,” ujarnya.
Jogja dan Masa Depan Industri Kreatif
Jogja Printing Expo menjadi salah satu cara Yogyakarta menjaga denyut industri kreatifnya tetap hidup. Di tengah perubahan pasar dan teknologi, ruang seperti ini membuka peluang adaptasi yang lebih luas bagi pelaku usaha.
Ketika jejaring terbentuk dan inovasi terus tumbuh, industri percetakan di Jogja tidak hanya bertahan, tetapi juga menemukan arah baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. (Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id













