Scroll untuk baca artikel
BudayaDaerahFavorite

Di Balik Silaturahmi DIY: Pesan Sultan tentang Tanggung Jawab

×

Di Balik Silaturahmi DIY: Pesan Sultan tentang Tanggung Jawab

Sebarkan artikel ini

Nilai pengabdian dan moral kepemimpinan kembali ditegaskan dari Bantul

Sri Sultan HB X tekankan nilai pengabdian dan tanggung jawab dalam silaturahmi DIY di Bantul, mengingatkan pentingnya moral kepemimpinan. Foto: Dok Bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com – Di Pendopo Manggala Parasamya, suasana siang itu terasa tenang, namun sarat makna. Para pemimpin daerah berkumpul, bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi menyerap pesan yang menyentuh inti kepemimpinan.

Di tengah dinamika pemerintahan yang terus bergerak, Sri Sultan Hamengku Buwono X justru mengingatkan hal yang sering terlupa: pengabdian tidak lahir dari jabatan, melainkan dari tanggung jawab dan kejernihan hati.

Nilai Lama, Relevansi Baru

Dalam silaturahmi Gubernur dan Wakil Gubernur DIY di Bantul, Jumat (10/4/2026), Sri Sultan mengutip ajaran dari Serat Piwulang Hamengkubuwono I.

Sebuah naskah lama, tetapi terasa begitu dekat dengan kondisi hari ini.

“Kang utama tansah ulah ing sih. Keutamaan pengabdian bertumbuh dari tanggung jawab, empati, dan keluhuran budi,” ujarnya.

Terlihat sederhana, namun di tengah kompleksitas birokrasi modern, nilai seperti ini justru menjadi fondasi yang kerap terabaikan.

Banyak yang tidak menyadari, krisis kepercayaan publik sering kali bukan karena kurangnya program, tetapi karena hilangnya sentuhan kemanusiaan dalam kepemimpinan.

Baca juga: Aplikasi Anjab ASN Kulon Progo

Jabatan sebagai Titipan, Bukan Kekuasaan

Sri Sultan juga menegaskan bahwa jabatan bukanlah hak yang melekat selamanya.

Ada pesan mendalam dalam ungkapan Jawa yang ia sampaikan: kepercayaan adalah titipan mulia yang harus dijaga dengan kesungguhan dan kejernihan nurani.

Di titik ini, ada satu refleksi yang terasa kuat: kekuasaan bisa datang dan pergi, tetapi kepercayaan (sekali hilang) sulit kembali.

Kalimat ini mungkin terdengar sunyi, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada kualitas pelayanan publik.

Fenomena ini juga sering menjadi sorotan dalam berbagai diskusi tentang reformasi birokrasi dan kepemimpinan daerah, termasuk dalam konteks pembangunan berbasis budaya yang selama ini menjadi ciri khas DIY.

Bantul dan Semangat Menyelaraskan Diri

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyambut kehadiran Gubernur dan Wakil Gubernur sebagai kehormatan sekaligus pengingat arah.

Ia menegaskan bahwa semangat Manunggal Jati Selaras menjadi landasan dalam pembangunan daerah.

Namun, ia juga mengakui bahwa perjalanan tidak selalu sempurna.

“Masih ada sektor yang memerlukan perhatian,” ungkap Halim.

Pengakuan ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya, kesadaran untuk mulat sarira, memperbaiki diri.

Dan mungkin, di tengah tuntutan pencapaian, keberanian untuk mengakui kekurangan adalah bentuk kepemimpinan yang paling jujur.

Antara Budaya dan Masa Depan

Silaturahmi ini bukan sekadar agenda seremonial.

Ada arah yang ingin ditegaskan: bahwa pembangunan di DIY tidak bisa dilepaskan dari akar budaya.

Nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, dan keluhuran budi bukan hanya warisan, tetapi juga kompas untuk masa depan.

Pertanyaannya, sejauh mana nilai-nilai itu benar-benar hidup dalam praktik sehari-hari?

Menjaga Nyala Pengabdian

Di tengah perubahan zaman, pesan Sri Sultan terasa seperti pengingat yang lembut namun tegas.

Bahwa menjadi pemimpin bukan tentang terlihat paling depan, tetapi tentang hadir secara utuh bagi yang dipimpin.

Dan mungkin, di situlah makna pengabdian yang sesungguhnya: bekerja tanpa kehilangan nurani, memimpin tanpa meninggalkan empati. (Oi)

Sumber: Bantulkab.go.id