Scroll untuk baca artikel
FavoriteNasionalPeristiwa

Cahaya di Langit Selatan, BRIN Sebut Sampah Antariksa

×

Cahaya di Langit Selatan, BRIN Sebut Sampah Antariksa

Sebarkan artikel ini

Fenomena langit yang memikat sekaligus mengingatkan pentingnya literasi sains

Fenomena benda terang di langit dijelaskan BRIN sebagai sampah antariksa. Aman, namun jadi momen penting literasi sains bagi publik. foto: Dok IG wargatangsel/infopublik

Yogyakarta, Voicejogja.com – Langit malam yang biasanya tenang mendadak menyala, memancing rasa takjub sekaligus tanya dari banyak orang.

Fenomena benda terang di langit yang sempat terlihat dari arah selatan itu kini terjawab: sampah antariksa yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi, sebuah peristiwa yang jarang namun bukan tanpa makna bagi publik.

Jejak Cahaya dari Orbit Rendah

Fenomena cahaya terang yang melintas cepat itu dijelaskan sebagai bagian dari sampah antariksa, tepatnya sisa roket Tiongkok CZ-3B.

Saat memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi, benda tersebut mengalami gesekan hebat dengan udara, memicu panas ekstrem hingga terbakar dan pecah menjadi serpihan cahaya.

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin, menyebut kondisi ini membuat objek tampak dramatis dari permukaan Bumi.

“Ketika memasuki atmosfer yang semakin padat, benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti serpihan cahaya,” jelasnya.

Momen ini terekam oleh warga dan menyebar cepat di media sosial, memperlihatkan bagaimana langit bisa menjadi ruang perjumpaan antara sains dan rasa ingin tahu publik.

Proses Alam yang Tak Selalu Terlihat

Dari hasil analisis orbit, objek tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di barat Sumatra. Saat ketinggiannya turun di bawah 120 kilometer, hambatan udara meningkat tajam.

Gesekan intens itulah yang memicu panas tinggi hingga akhirnya benda tersebut terfragmentasi. Sebagian besar diperkirakan jatuh di wilayah hutan atau laut, jauh dari permukiman.

Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru secara global, tetapi kesempatan menyaksikannya langsung dari wilayah Indonesia tergolong jarang. Peristiwa serupa terakhir terjadi pada 2022.

Aman, Tapi Tetap Perlu Waspada

BRIN menegaskan bahwa mayoritas sampah antariksa akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang bertahan dan jatuh di area padat penduduk, meski hingga kini belum pernah tercatat kasus tersebut di Indonesia.

Penjelasan ini menjadi penting di tengah cepatnya arus informasi yang kerap memicu spekulasi. Ketika fenomena langit muncul, rasa cemas sering kali lebih dulu hadir dibanding pemahaman.

Langit sebagai Ruang Edukasi Publik

Fenomena ini bukan sekadar peristiwa sesaat, tetapi pengingat bahwa aktivitas antariksa global memiliki dampak yang bisa terlihat hingga ke bumi. Bekas roket dan satelit yang tak lagi aktif terus bergerak, perlahan kehilangan ketinggian sebelum akhirnya terbakar di atmosfer.

Bagi publik, terutama generasi muda, momen seperti ini membuka ruang belajar yang nyata, bahwa sains bukan sesuatu yang jauh, melainkan hadir di atas kepala, bisa dilihat, dan dipahami.

Jogja, sebagai kota pendidikan, punya posisi penting untuk merespons fenomena semacam ini. Bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai ruang tumbuhnya kesadaran ilmiah yang lebih kuat di tengah masyarakat (Oi)

Sumber: BRIN/Infopublik.id