Kulon Progo, Voicejogja.com – Di tengah suasana khidmat, 24 kafilah MTQ Kulon Progo melangkah dengan satu harapan: membawa nama daerah ke tingkat lebih tinggi. Bagi banyak keluarga, ini bukan sekadar lomba, tetapi perjalanan menjaga nilai dan masa depan generasi muda Jogja.
Pelepasan kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) berlangsung di Ruang Menoreh, Kompleks Kantor Bupati Kulon Progo. Momen ini menjadi penanda keseriusan daerah dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter.
Rombongan dipimpin Kepala Kantor Kemenag Kulon Progo, Wahib Jamil, dan diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Jazil Ambar Was’an. Kehadiran mereka membawa pesan bahwa MTQ bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bagian dari investasi sosial.
Seleksi Ketat dan Harapan Besar
Sebanyak 24 peserta yang berangkat merupakan hasil seleksi dari MTQ tingkat kabupaten di Kapanewon Galur tahun sebelumnya. Meski kuota terbatas di tingkat provinsi, Kulon Progo tetap mengirimkan perwakilan terbaiknya.
Cabang lomba yang diikuti mencakup tilawah anak dan dewasa, tahfidz 20 dan 30 juz, khat Al-Qur’an, tafsir bahasa Arab dan Indonesia, hingga Musabaqah Syarhil dan Fahmil Qur’an.
“Kami memohon doa restu agar para kafilah dapat melaksanakan tugas dengan baik, sehat, dan selamat. Harapan kami, ada yang bisa melaju hingga nasional bahkan internasional,” ujar Wahib Jamil.
Baca Juga: Kulon Progo gunakan Aplikasi Anjab ABK
Mental Juara dan Tantangan di Depan
Perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Selain kesiapan materi, kesehatan dan mental menjadi faktor penting dalam menghadapi kompetisi tingkat DIY yang akan digelar di Sleman.
Jazil Ambar Was’an menekankan pentingnya kepercayaan diri dan semangat untuk melangkah lebih jauh.
“Jangan hanya berhenti di tingkat DIY. Saya sangat berharap ada yang melaju ke tingkat nasional. Mumpung lokasinya dekat, optimalkan kemampuan kalian, dan jangan minder,” pesannya.
Lebih dari Sekadar Kompetisi
Bagi Kulon Progo, keikutsertaan dalam MTQ membawa makna yang lebih luas. Ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang membangun karakter generasi muda yang berakar pada nilai keagamaan dan integritas.
Di tengah arus perubahan sosial, ruang-ruang seperti MTQ menjadi penyeimbang, menguatkan identitas sekaligus membuka peluang prestasi.
Langkah para kafilah ini menjadi cermin harapan: bahwa Jogja tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tetapi juga berjiwa kuat dan berdaya saing. (Oi)













