Scroll untuk baca artikel
DaerahEkonomiFavorite

Baznas Diharap Jawab Warga yang Belum Terjangkau

×

Baznas Diharap Jawab Warga yang Belum Terjangkau

Sebarkan artikel ini

Ketika celah bantuan muncul, solidaritas warga jadi harapan baru

Baznas Yogyakarta diharapkan menjangkau warga yang belum tersentuh bantuan, dari pendidikan hingga lansia terlantar. Foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di balik hiruk-pikuk Kota Yogyakarta, masih ada cerita-cerita sunyi yang tak selalu tersentuh program resmi. Seorang ibu yang cemas memikirkan biaya pendidikan anaknya, atau lansia yang menjalani hari tanpa penopang ekonomi, realitas ini hadir di tengah kota yang terus bergerak maju.

Dalam ruang seperti itulah peran Baznas menjadi terasa dekat. Bukan sekadar lembaga penghimpun zakat, tetapi jembatan bagi persoalan warga yang belum sepenuhnya terjangkau kebijakan.

Mengisi Celah yang Tak Terjangkau

Pesan itu mengemuka dalam Rapat Koordinasi Daerah Baznas se-DIY di Balaikota Yogyakarta. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menekankan bahwa keberhasilan Baznas bukan hanya soal besaran dana, tetapi kemampuan membaca peluang dan membangun kepercayaan publik.

“Yang tidak kalah penting adalah trust atau kepercayaan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai, masih ada berbagai persoalan warga yang tidak dapat diselesaikan melalui skema APBD maupun APBN. Dalam situasi tersebut, Baznas hadir mengisi celah, menjadi solusi di ruang yang belum tersentuh.

Terlihat sederhana, namun dampaknya nyata. Ketika sistem formal memiliki batas, solidaritas sosial justru menemukan jalannya.

Dari Kasus Nyata hingga Bedah Rumah

Pengalaman di lapangan memperlihatkan bagaimana peran itu bekerja. Hasto mencontohkan seorang ibu yang kesulitan membiayai pendidikan anaknya hingga terancam tidak bisa mengikuti ujian—situasi yang akhirnya dapat ditangani melalui intervensi Baznas.

Di sisi lain, program bedah rumah juga menjadi bukti konkret. Dengan dukungan dana Baznas dan semangat gotong royong, puluhan rumah tidak layak huni berhasil diperbaiki.

“Tahun 2025 kami bisa membangun 82 rumah tanpa APBD dan APBN, dan tahun ini ditargetkan 200 rumah,” jelasnya.

Di balik angka itu, ada cerita tentang rumah yang kembali layak huni, dan kehidupan yang perlahan pulih.

Menyentuh Kelompok Rentan

Perhatian juga diarahkan pada kelompok yang kerap luput dari sorotan, seperti lansia terlantar dan janda tua. Kelompok ini, menurut Hasto, justru menjadi persoalan nyata yang belum banyak tersentuh bantuan.

Baznas Kota Yogyakarta mulai memperkuat program untuk kelompok rentan tersebut, dengan pendekatan bantuan berkelanjutan.

Ketua Baznas Kota Yogyakarta, Abdul Samik, menjelaskan bahwa bantuan diberikan secara rutin, bahkan ada yang dirancang sepanjang penerima masih membutuhkan.

“Biasanya kami berikan dalam bentuk sembako dan uang tunai,” ungkapnya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa bantuan tidak lagi bersifat sesaat, tetapi berupaya menjaga keberlangsungan hidup penerima manfaat.

Kepercayaan Jadi Fondasi

Dari sisi penghimpunan, capaian Baznas Kota Yogyakarta menunjukkan tren positif. Dana yang terkumpul selama Ramadan 2026 melampaui target, menandakan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh.

Ketua Baznas DIY, Puji Astuti, menegaskan pentingnya tata kelola yang baik untuk menjaga kepercayaan tersebut.

“Kami berpegang pada prinsip tiga aman, yaitu aman syar’i, aman regulasi, dan aman NKRI,” tegasnya.

Ke depan, sinergi dengan pemerintah wilayah dan masyarakat akan diperkuat agar bantuan semakin tepat sasaran, terutama bagi warga miskin ekstrem.

Makna bagi Jogja

Apa yang sedang dibangun melalui Baznas bukan hanya sistem bantuan, tetapi juga budaya kepedulian yang tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Di tengah keterbatasan kebijakan formal, Jogja menunjukkan bahwa solusi bisa lahir dari kepercayaan dan gotong royong. Bahwa di antara celah-celah yang tak terjangkau, selalu ada ruang bagi kemanusiaan untuk hadir. (Oi)

sumber: warta.jogjakota.go.id