Gunungkidul, Voicejogja.com – Pagi di Playen terasa berbeda. Di tengah aktivitas warga yang berjalan seperti biasa, muncul satu gagasan besar: pembangunan tak lagi sekadar rencana, tapi bertumpu pada data yang benar-benar hidup di tengah masyarakat.
Bagi warga, ini bukan sekadar program baru. Ketika data dikelola dengan baik, keputusan yang diambil bisa lebih tepat, menyentuh kebutuhan nyata, dari pelayanan dasar hingga arah pembangunan ke depan.
Tiga Kalurahan Jadi Pionir
Badan Pusat Statistik bersama Pemerintah Kabupaten Gunungkidul resmi mencanangkan program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) 2026 di Kalurahan Playen. Tiga kalurahan di Kapanewon Playen (Playen, Plembutan, dan Banaran) ditunjuk sebagai pionir sekaligus role model pengelolaan data statistik di tingkat desa.
Kehadiran para pemangku kebijakan, mulai dari Bupati Gunungkidul hingga jajaran BPS, menjadi penanda bahwa langkah ini bukan seremoni semata. Ada arah besar yang sedang dibangun: menjadikan desa lebih mandiri dalam membaca dan mengelola datanya sendiri.
Dipilih Karena Siap dan Adaptif
Penunjukan tiga kalurahan ini bukan tanpa alasan. Dari sisi sumber daya manusia, perangkat kalurahan dinilai adaptif terhadap teknologi dan memiliki kemampuan yang mumpuni.
Sarana pendukung seperti komputer juga tersedia dengan baik. Ditambah lagi, keaktifan dalam mengelola informasi melalui media sosial dan website menunjukkan kesiapan mereka menghadapi era digital.
Panewu Playen, Irma Madyastuti Rahayu, berharap langkah ini menjadi pemicu perubahan.
“Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk terus berbenah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Terlihat sederhana, namun di balik kesiapan itu ada fondasi penting: desa yang mampu mengelola data akan lebih cepat memahami warganya sendiri.
Desa Bukan Lagi Objek
Plt. Kepala BPS DIY, Endang Triwahyuningsih, menegaskan bahwa program Desa Cantik membawa perubahan cara pandang. Desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif menentukan arah.
Pendampingan intensif akan dilakukan agar data yang dihasilkan bukan sekadar angka, tetapi menjadi dasar kebijakan yang nyata.
Di sinilah letak perubahan pentingnya—ketika data tidak lagi berhenti di laporan, tetapi menjadi alat untuk membaca kebutuhan masyarakat secara lebih jernih.
Banyak yang belum menyadari, keputusan yang tidak berbasis data sering kali membuat program meleset dari kebutuhan warga.
Arah Baru Pembangunan Gunungkidul
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menekankan pentingnya pembangunan berbasis data sebagai pijakan utama kebijakan.
Menurutnya, jika satu data dapat diwujudkan dengan dukungan lintas sektor, termasuk Kominfo, maka berbagai persoalan masyarakat bisa diidentifikasi dan ditindaklanjuti lebih cepat.
Langkah ini membuka peluang baru: perencanaan yang lebih tepat sasaran, evaluasi yang terukur, serta kebijakan yang benar-benar menyentuh kebutuhan warga.
Di tengah perubahan zaman, kemampuan membaca data bisa menjadi pembeda antara pembangunan yang sekadar berjalan, dan pembangunan yang benar-benar berdampak.
Makna Bagi Gunungkidul
Apa yang dimulai dari tiga kalurahan di Playen ini membawa pesan lebih luas bagi Gunungkidul . Bahwa masa depan pembangunan bukan hanya soal anggaran atau program besar, tetapi tentang ketepatan memahami realitas masyarakat.
Ketika desa mampu berdiri dengan datanya sendiri, Gunungkidul tidak hanya berkembang, tetapi juga bergerak dengan arah yang lebih pasti. (Oi)
Sumber: gunungkidulkab.go.id













