Scroll untuk baca artikel
AgamaBudayaDaerahFavorite

Di Balik Gereja Baru di Gunungkidul, Ada Nilai Toleransi

×

Di Balik Gereja Baru di Gunungkidul, Ada Nilai Toleransi

Sebarkan artikel ini

Ketika sebuah bangunan tak hanya berdiri, tapi juga menyatukan

Pembangunan Gereja GPDI Balong di Gunungkidul jadi simbol toleransi, ditegaskan langsung oleh Bupati Endah Subekti Kuntariningsih. foto: Dok Gunungkidulkab.go.id

Gunungkidul, Voicejogja.com – Suara doa dan sapaan hangat saling bersahutan di sebuah sudut Gunungkidul. Di atas tanah yang belum sepenuhnya rata, sebuah harapan mulai diletakkan, bukan hanya dalam bentuk batu, tapi dalam makna kebersamaan yang lebih dalam.

Bagi banyak warga, pembangunan rumah ibadah mungkin terlihat sebagai hal biasa. Namun di tempat ini, ia menjadi simbol bahwa perbedaan bisa berjalan berdampingan tanpa rasa curiga.

Momentum yang Lebih dari Sekadar Seremoni

Peletakan batu pertama pembangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPDI) Balong dihadiri langsung oleh Endah Subekti Kuntariningsih bersama jajaran Forkopimda dan perwakilan Kementerian Agama.

Dalam suasana yang guyub, proses ini menandai dimulainya pembangunan fisik sekaligus penguatan nilai sosial di tengah masyarakat.

Namun lebih dari itu, momen ini membawa pesan yang terasa relevan di tengah dinamika sosial saat ini.

Toleransi yang Ditegaskan

Dalam sambutannya, Endah Subekti Kuntariningsih menegaskan bahwa tidak boleh ada ruang bagi intoleransi di Gunungkidul.

Hak beribadah adalah bagian dari konstitusi yang harus dijaga bersama.

Terlihat sederhana, tapi berdampak besar, karena rasa aman dalam beribadah adalah fondasi dari kehidupan sosial yang damai.

Banyak yang tak menyadari, toleransi bukan hanya slogan, tapi keputusan yang terus dijaga setiap hari.

Rumah Ibadah sebagai Ruang Sosial

Plt. Pembimas Kristen Kanwil Kemenag DIY, Abdul Suud, menekankan bahwa pembangunan gereja bukan hanya soal tempat ibadah.

Ia juga menjadi ruang pembinaan moral, pendidikan karakter, hingga penguatan solidaritas sosial.

Apalagi momentum ini hadir tak lama setelah perayaan Paskah, memberi makna spiritual yang lebih dalam bagi jemaat.

Negara dan Kehadiran yang Terasa

Kepala Kantor Kemenag Gunungkidul, Mukhatib, memastikan bahwa negara hadir untuk menjamin setiap warga dapat beribadah dengan layak.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan sosial di tengah keberagaman.

Di sisi lain, isu toleransi sering kali muncul dalam berbagai konteks, termasuk dalam dinamika kehidupan masyarakat lokal, pembangunan wilayah, hingga harmoni antarumat.

Antara Harapan dan Realitas

Pembangunan Gereja GPDI Balong diharapkan berjalan lancar dan segera dapat digunakan oleh jemaat.

Namun ada satu hal yang terasa lebih penting dari sekadar selesai tepat waktu: apakah nilai toleransi yang diusung bisa terus hidup setelah bangunan ini berdiri?

Reflektifnya, harmoni tidak dibangun dalam sehari, ia dirawat, dijaga, dan diuji dari waktu ke waktu.(Oi)

Sumber: gunungkidulkab.go.id