Scroll untuk baca artikel
BisnisDaerahEkonomiFavorite

Integrated Farming Maguwoharjo Perkuat Ketahanan Pangan

×

Integrated Farming Maguwoharjo Perkuat Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini

Dari kandang ayam hingga kebun organik, warga diajak tumbuh bersama

Integrated farming Maguwoharjo dorong ketahanan pangan dan ekonomi warga melalui peternakan dan pertanian terpadu berbasis desa. foto: Istimewa

Sleman, Voicejogja.com – Di tengah naik turunnya harga bahan pangan, warga mulai mencari kepastian: dari mana kebutuhan harian akan terpenuhi. Di Maguwoharjo, langkah itu mulai dibangun lewat integrated farming sebagai upaya menjaga ketahanan pangan sekaligus membuka ruang ekonomi baru.

Program ini digerakkan melalui BUMKal Sari Dewi, menjadi bagian dari cara Jogja menjaga kemandirian pangan dari tingkat paling dekat dengan warga.

Memulai dari Kandang Ayam Petelur

Di Padukuhan Sembego, sosialisasi pembangunan kandang ayam petelur menjadi tanda awal realisasi program ini. Unit pertama yang dibangun memiliki kapasitas sekitar 1.000 ekor ayam.

Produksi telur nantinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, menghadirkan pasokan pangan yang lebih dekat, sekaligus lebih terjangkau.

Penjabat Lurah Maguwoharjo, Isti Fajaroh, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar proyek, tetapi bagian dari strategi jangka panjang.

“Program ketahanan pangan ini merupakan langkah nyata kami dalam mengoptimalkan Dana Desa untuk kesejahteraan warga. Kami tidak hanya fokus pada ayam petelur, tetapi juga membangun ekosistem pertanian terpadu yang berkelanjutan,” ujarnya.

Terhubung dalam Ekosistem Pertanian Terpadu

Pengembangan kawasan seluas 6.000 meter persegi ini dirancang tidak berdiri sendiri. Peternakan ayam akan terhubung dengan greenhouse melon organik, tanaman selada, cabai, hingga budidaya domba.

Konsep integrated farming ini memungkinkan setiap sektor saling mendukung, menciptakan efisiensi sekaligus keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya.

Seluruh operasionalnya akan dikelola secara profesional oleh BUMKal Sari Dewi, menjadikan program ini tidak hanya berbasis sosial, tetapi juga memiliki arah ekonomi yang jelas.

Menjaga Keseimbangan dengan Lingkungan

Di balik optimisme program ketahanan pangan, ada perhatian warga terhadap dampak lingkungan yang mungkin muncul. Kekhawatiran ini menjadi bagian penting yang tidak diabaikan.

Pemerintah kalurahan menegaskan komitmen untuk menjaga pengelolaan limbah secara ketat, sekaligus membuka ruang dialog dengan masyarakat.

“Kami sangat terbuka terhadap masukan masyarakat. Apabila di kemudian hari terdapat potensi gangguan, khususnya terkait pengelolaan limbah, hal tersebut dapat segera dikomunikasikan kepada kami,” kata Isti.

Pendekatan ini menjadi penting agar pembangunan tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga tetap menjaga kenyamanan lingkungan warga.

Dari Desa untuk Masa Depan Pangan Jogja

Langkah Maguwoharjo mencerminkan arah baru pembangunan berbasis desa, di mana ketahanan pangan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan luar, tetapi tumbuh dari lingkungan sendiri.

Dengan dominasi masyarakat lokal dalam pengelolaan, program ini membuka peluang kerja, memperkuat ekonomi warga, sekaligus menjaga keberlanjutan pangan di tengah perubahan zaman.

Ketika lahan, teknologi, dan partisipasi warga bertemu dalam satu ekosistem, Jogja tidak hanya bertahan, tetapi sedang merancang masa depan pangannya sendiri. (Oi)

Sumber: Infopublik.id