Scroll untuk baca artikel
BudayaEkonomiFavoriteWisata

Kerja Bakti Malioboro, Menjaga Nyaman Ruang Publik Jogja

×

Kerja Bakti Malioboro, Menjaga Nyaman Ruang Publik Jogja

Sebarkan artikel ini

Dari gotong royong, wajah Jogja dirawat untuk semua yang datang

Kerja bakti Malioboro menjaga kebersihan dan kenyamanan ruang publik Jogja melalui gotong royong berkelanjutan. foto: Dok Warta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, Voicejogja.com – Pagi di Malioboro selalu punya ritmenya sendiri, langkah wisatawan, derap becak, hingga ruang-ruang yang harus tetap terjaga agar nyaman dilalui. Di tengah denyut itu, kerja bakti Malioboro menjadi cara sederhana namun penting untuk memastikan kawasan ini tetap layak bagi semua.

Bagi warga Jogja, kebersihan Malioboro bukan hanya soal estetika, tetapi tentang menjaga wajah kota yang menjadi ruang hidup bersama.

Kerja bakti terpadu kembali digelar di kawasan Malioboro, melibatkan berbagai unsur dari lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta, instansi vertikal, aparat kepolisian dan TNI, hingga komunitas dan pelaku usaha.

Penjabat Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, turut hadir dan terjun langsung dalam kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kerja bakti ini merupakan bagian dari gerakan “Yogyakarta Berhati Nyaman” yang selaras dengan program Indonesia Asri.

“Kita ingin menjaga konsistensi gerakan ini. Setiap Selasa dan Jumat kita lakukan kerja bakti, baik di kantor maupun di luar. Kali ini kita fokus di Malioboro karena sudah sekitar satu bulan sejak terakhir dibersihkan sebelum puasa,” ujarnya.

Foto: Dok warta.jogjakota.go.id

Menyasar Titik yang Sering Terabaikan

Pembersihan tidak hanya dilakukan di area yang terlihat, tetapi juga menyasar titik-titik yang kerap luput dari perhatian. Area parkir andong dan becak, trotoar, hingga ruang di bawah pepohonan menjadi bagian dari fokus kerja bakti.

Penyemprotan dilakukan untuk menghilangkan bau tidak sedap, sementara jalur pembersihan membentang dari Malioboro hingga Margomulyo dan berakhir di titik nol kilometer.

Meski demikian, masih ditemukan puntung dan bungkus rokok di kawasan yang telah ditetapkan sebagai area bebas rokok. Temuan ini menjadi pengingat bahwa kenyamanan ruang publik juga bergantung pada kesadaran bersama.

“Ini harus menjadi kesadaran bersama, baik masyarakat maupun wisatawan. Kita sudah menyediakan tempat khusus merokok,” kata Dedi.

Gotong Royong sebagai Budaya Kota

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, melihat kerja bakti bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari upaya merawat budaya gotong royong.

Momentum Selasa dan Jumat dimanfaatkan untuk menggerakkan partisipasi bersama, termasuk pada hari Selasa Wage yang memiliki nilai tersendiri dalam tradisi Jawa.

“Kita membiasakan kerja bakti sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kegiatan ini mencakup pembersihan fasilitas publik, penyedotan limbah di 12 titik cekungan, pemangkasan pohon, hingga penertiban reklame liar dan sampah pengunjung.

Menjaga Malioboro sebagai Ruang Bersama

Selain itu, pembersihan juga dilakukan pada elemen-elemen seperti teraso, grill, tree case, serta penghapusan coretan vandalisme. Area pedestrian menjadi perhatian utama agar tetap nyaman dilalui.

Seluruh peserta bahu-membahu menjaga kebersihan, menegaskan bahwa Malioboro bukan hanya destinasi wisata, tetapi ruang bersama yang harus dirawat.

“Kami ingin membiasakan bahwa kebersihan adalah bagian dari kenyamanan dan kesehatan kita bersama,” imbuh Yetti.

Upaya ini diharapkan mampu menjaga Malioboro tetap bersih, indah, dan nyaman, tidak hanya untuk wisatawan, tetapi juga bagi warga yang setiap hari hidup dan beraktivitas di sekitarnya. (Oi)

Sumber: warta.jogjakota.go.id