Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanBisnisBudayaDaerahEkonomiFavorite

Tape Singkong Watugedug, Denyut Ekonomi dari Dapur

×

Tape Singkong Watugedug, Denyut Ekonomi dari Dapur

Sebarkan artikel ini

Warisan rasa yang menjaga hidup warga dan tradisi lokal

Tape singkong Watugedug jadi sumber ekonomi warga, menjaga tradisi sekaligus membuka peluang pengembangan sentra pangan lokal. Foto: Dok bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com – Aroma tape singkong yang manis dan khas menguar pelan dari dapur sederhana di Watugedug. Dari ruang kecil itu, lahir bukan hanya pangan tradisional, tetapi juga harapan yang terus menghidupi keluarga dan menjaga warisan lama tetap bernapas.

Bagi sebagian warga, tape singkong bukan sekadar camilan, melainkan sumber penghidupan yang tumbuh dari kesabaran, ketelatenan, dan pengetahuan turun-temurun.

Dari Warisan Keluarga Menjadi Penopang Hidup

Di rumah Samsudin dan istrinya, Tukul, produksi tape singkong telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang panjang.

Usaha ini bermula sejak 1986, ketika keluarga mencoba mengolah singkong hasil tanam sendiri menjadi tape. Dari percobaan sederhana, lahir usaha yang terus bertahan hingga kini.

“Dulu tidak ada pekerjaan, lalu bapak menanam singkong sendiri. Setelah dicoba dibuat tape, ternyata laku,” kenang Samsudin.

Warisan itu kini diteruskan, bukan hanya sebagai usaha, tetapi juga sebagai identitas keluarga.

Foto: Dok bantulkab.go.id

Proses Tradisional yang Menjaga Rasa

Pembuatan tape singkong di Watugedug masih mengandalkan cara-cara tradisional yang terjaga.

Singkong dicuci, dikupas, dipotong, lalu direbus dua kali dengan jeda semalaman. Setelah dingin, ragi ditaburkan sebagai awal fermentasi, sebelum ditutup berlapis daun pisang, plastik, dan kain.

Proses sederhana ini menyimpan ketelitian tinggi. Kualitas ragi menjadi penentu utama keberhasilan.

“Kalau raginya bagus, hasilnya juga bagus. Tapi kalau tidak, bisa gagal,” ujar Samsudin.

Dari Dapur ke Pasar

Tape hasil produksi dikemas dalam plastik setengah kilogram dan dipasarkan dengan harga Rp5.000. Selain dijual di Pasar Niten, produk ini juga diambil langsung oleh pedagang.

Dari usaha ini, kebutuhan sehari-hari keluarga terpenuhi, termasuk pendidikan anak.

Tape tidak hanya dikonsumsi langsung, tetapi juga menjadi bahan olahan lain, seperti campuran es hingga isian roti gabin—membuka nilai tambah dari produk sederhana ini.

Ekonomi Kolektif di Watugedug

Di Watugedug, produksi tape tidak berhenti pada satu rumah. Sekitar tujuh keluarga kini menjalankan usaha serupa, membentuk denyut ekonomi kolektif berbasis rumah tangga.

Dalam sehari, produksi bisa mencapai 50 hingga 100 kilogram singkong, bergantung pada cuaca.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu kendala, karena singkong harus didatangkan dari luar daerah seperti Karanganyar dan Boyolali.

Menjaga Tradisi di Tengah Keterbatasan

Selain bahan baku, proses produksi juga masih mengandalkan kayu bakar, dengan kebutuhan satu truk setiap dua bulan.

Biaya ini menjadi bagian dari perjuangan menjaga usaha tetap berjalan di tengah keterbatasan.

Di sisi lain, ada harapan agar potensi tape singkong Watugedug mendapat perhatian lebih, tidak hanya sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai bagian dari identitas lokal yang bisa berkembang menjadi sentra ekonomi sekaligus destinasi berbasis pengalaman.

Di dapur-dapur sederhana itu, Jogja memperlihatkan wajahnya yang paling jujur, tentang kerja keras, ketahanan, dan rasa yang diwariskan tanpa banyak suara (Oi)

Sumber: bantulkab.go.id