Yogyakarta, Voicejogja.com – Pagi-pagi di beberapa kampung Jogja, tawa para lansia mulai terdengar lagi. Setelah sempat jeda, kegiatan Sekolah Lansia kembali berjalan, menghadirkan ruang baru bagi mereka untuk tetap aktif dan merasa berarti.
Program Sekolah Lansia di Kota Yogyakarta bukan sekadar kegiatan rutin. Ia menjadi cara Jogja merawat warganya yang menua, agar tetap sehat, mandiri, dan terhubung dengan kehidupan sosial di sekitarnya.
Jawaban atas Tantangan Demografi
Tahun ini, sembilan Sekolah Lansia baru kembali berjalan setelah dikukuhkan pada Februari. Secara total, terdapat 11 Sekolah Lansia yang didanai melalui APBD Kota Yogyakarta.
Program ini lahir dari realitas demografi Jogja yang memiliki angka harapan hidup tinggi, sekitar 75,4 tahun, sekaligus jumlah lansia yang terus bertambah.
“Harapannya lansia tidak hanya panjang umur, tapi juga berkualitas. Tetap sehat, mandiri, aktif, dan merasa berdaya,” ujar Kepala Bidang KB dan Pembangunan Keluarga DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Herristanti.
Menuju Setiap Kelurahan Punya Sekolah Lansia
Ke depan, Pemkot Yogyakarta menargetkan seluruh 45 kelurahan memiliki Sekolah Lansia. Namun, keterbatasan anggaran membuat pengembangannya dilakukan bertahap.
Kolaborasi menjadi kunci. Perguruan tinggi, sektor swasta, hingga masyarakat diajak terlibat dalam skema gotong royong, dengan tetap mengikuti standar kurikulum yang telah ditetapkan.
“Jangan hanya branding, tapi substansinya berbeda. Ini sudah ada kurikulum dan tahapan yang jelas,” tegas Herristanti.
Antusiasme Tinggi, Ruang Sosial Baru
Minat lansia terhadap program ini terbilang tinggi. Setiap Sekolah Lansia menargetkan 70 peserta, terdiri dari 50 lansia dan 20 pengurus dari kelompok pra-lansia.
Di beberapa wilayah, jumlah pendaftar bahkan melebihi kuota. Sementara di lokasi lain, sosialisasi tambahan dilakukan hingga target terpenuhi.
Pengalaman di Suryodiningratan menunjukkan tingkat kehadiran peserta mendekati 100 persen. Ketidakhadiran biasanya hanya karena alasan kesehatan atau keperluan mendesak.
Belajar dengan Cara yang Menyenangkan
Metode pembelajaran dirancang tidak membebani. Kurikulum dari BKKBN dikemas lebih interaktif dengan komposisi sekitar 40 persen teori dan 60 persen praktik.
Kegiatan seperti senam, permainan, diskusi, hingga outing class menjadi bagian penting. Lansia diajak bergerak, berinteraksi, dan tetap aktif secara fisik maupun mental.
Materi yang diberikan mencakup kesehatan, proses menua, hingga kewirausahaan. Namun, produktivitas tidak selalu dimaknai sebagai menghasilkan uang.
“Yang penting lansia merasa berdaya dan tidak menjadi beban,” jelas Sri Hartati, Penelaah Teknis Kebijakan DP3AP2KB Kota Yogyakarta.
Dampak yang Terasa Hingga Keluarga
Program ini tidak hanya berdampak pada lansia, tetapi juga keluarga. Banyak yang merasa bangga melihat orang tuanya kembali aktif dan percaya diri.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Pemahaman masyarakat terhadap konsep Sekolah Lansia yang sesuai standar masih perlu diperkuat, termasuk menjaga kualitas pelaksanaan di lapangan.
Pendekatan yang hangat juga menjadi kunci, mengingat lansia membutuhkan perhatian dalam interaksi sosial sehari-hari.
Di tengah perubahan zaman, Jogja memilih tidak meninggalkan generasi yang lebih dulu menapaki hidup. Sekolah Lansia menjadi cara sederhana namun bermakna, menghadirkan ruang bagi mereka untuk tetap tumbuh, dihargai, dan menjadi bagian utuh dari kehidupan kota. (Oi)
Sumber: warta.jogjakota.go.id









