Yogyakarta, Voicejogja.com – Suasana di Pintu Timur Stasiun Tugu pagi itu terasa berbeda. Alur perjalanan warga Jogja sejenak berhenti ketika ruang publik berubah menjadi tempat membaca kembali arah batin kota melalui Pameran Sumbu Filosofi.
Pameran ini tidak hanya menampilkan karya, tetapi mencoba menjembatani warisan budaya dengan masa depan ekonomi kreatif yang menjadi napas banyak keluarga di Jogja.

Ruang Belajar Baru tentang Arah Hidup Kota
Pameran dibuka oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dengan penekanan pada pentingnya menghadirkan pendekatan yang membuat filosofi kota lebih mudah dipahami masyarakat, terutama generasi muda.
Baca Juga: Kompetisi Roket Air 2026 Di Jogja
Kolaborasi antarbudayawan, seniman, akademisi dari ISI Yogyakarta dan UGM, hingga partisipasi tamu internasional dari TU Wien memperlihatkan upaya bersama merawat makna Sumbu Filosofi agar terus relevan.
“Heritage harus kita pertahankan, fasadnya diperbaiki, dan yang paling penting masyarakat bisa memahami maknanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Hasto.
Budaya yang Menyentuh Kehidupan Warga
Hasto melihat bahwa pelestarian budaya tidak berhenti pada benda dan bangunan. Nilai filosofis yang terjaga dengan baik diharapkan dapat memperkuat kesejahteraan warga Jogja melalui ekosistem ekonomi kreatif.
Ia menggambarkan Sumbu Filosofi sebagai penanda ruang yang dapat tumbuh menjadi daya tarik wisata berkualitas dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat dalam jangka panjang.
“Sumbu Filosofi ini bisa menjadi menara gading baru yang tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi,” tambahnya.

Kolaborasi Akademis dan Kreativitas Anak Muda
Penanggung jawab pameran sekaligus akademisi ISI Yogyakarta, Nano Warsono, menjelaskan pameran ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang telah berlangsung sejak 2005 antara TU Wien, UGM, dan ISI Yogyakarta.
Melibatkan 30 mahasiswa lintas disiplin dari ISI dan UGM, pameran dirancang agar lebih interaktif dan bersahabat bagi anak-anak maupun keluarga.
Baca Juga: Artikel Budaya, Sejarah ada Disini
“Kami ingin masyarakat bisa memahami filosofi ini dengan cara yang lebih menyenangkan. Harapannya, Sumbu Filosofi tidak hanya menjadi konsep, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat,” terang Nano.
Arah Masa Depan: Warisan yang Hidup dan Menghidupkan
Melalui pameran ini, berbagai pemangku kepentingan berharap Sumbu Filosofi tidak hanya tetap terjaga sebagai pusaka dunia, tetapi juga mampu berkontribusi pada pembangunan budaya dan ekonomi berkelanjutan di Jogja.
Warisan yang kuat diharapkan tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir sebagai inspirasi bagi generasi mendatang dan menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas warga.(Oi)













