Scroll untuk baca artikel
BudayaDaerahFavorite

Kampung Lampion Jadi Contoh Penataan Sungai di Yogyakarta

×

Kampung Lampion Jadi Contoh Penataan Sungai di Yogyakarta

Sebarkan artikel ini

Dari bantaran Kali Code, lahir wajah baru permukiman berbasis gotong royong

Kampung Lampion Yogyakarta jadi contoh penataan bantaran Kali Code berbasis warga dan gotong royong. foto: Dok earta.jogjakota.go.id

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tepian Kali Code, lampion-lampion berwarna kini bukan sekadar hiasan, tetapi penanda perubahan hidup warga. Kampung Lampion di Yogyakarta tumbuh sebagai contoh penataan kawasan sungai yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.

Upaya ini menghadirkan harapan baru, bahwa ruang hidup di bantaran sungai bisa ditata tanpa kehilangan akar sosialnya.

Penataan yang Tumbuh dari Warga

Kunjungan Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Ronny Ariuly Hutahayan, menjadi pengakuan atas proses panjang yang dijalani Kampung Lampion di Kotabaru.

Penataan kawasan ini dinilai berhasil memadukan perbaikan fisik dengan kekuatan sosial warga. Gotong royong menjadi fondasi yang membuat perubahan terasa hidup, bukan sekadar proyek pembangunan.

“Ini luar biasa, tidak mudah dilakukan. Kami melihat bagaimana gotong royong dan kearifan lokal menjadi kekuatan utama,” ujarnya.

Pendekatan ini menjadikan Kampung Lampion sebagai contoh penataan kawasan kumuh yang melibatkan warga sebagai pelaku utama, bukan hanya objek pembangunan.

Lebih dari Sekadar Hunian

Di balik tampilan kampung yang lebih tertata, terdapat proses pembangunan bertahap yang terus berjalan. Pemerintah Kota Yogyakarta bersama warga membangun hunian dengan kualitas konstruksi yang baik melalui skema swakelola.

Dengan biaya sekitar Rp1,5 miliar, sepuluh rumah telah berdiri. Pembangunan ini merupakan bagian dari rencana besar yang menargetkan puluhan unit rumah hingga beberapa tahun ke depan.

Selain hunian, akses jalan lingkungan juga disiapkan agar terhubung hingga kawasan Kleringan. Jalur ini penting untuk memastikan layanan darurat seperti ambulans dan pemadam kebakaran bisa menjangkau permukiman dengan cepat.

Tantangan Infrastruktur Masih Ada

Di tengah capaian tersebut, masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Aspek prasarana, sarana, dan utilitas seperti sanitasi dan jalan lingkungan menjadi perhatian untuk diperkuat.

Pemerintah pusat mendorong kolaborasi lintas pihak agar penataan kawasan tidak berhenti pada satu titik, tetapi berkembang menjadi sistem yang terintegrasi.

Kampung Lampion menunjukkan bahwa perubahan tidak hanya soal membangun rumah, tetapi juga memastikan kualitas hidup warga meningkat secara menyeluruh.

Jogja Menata Sungai, Menata Masa Depan

Bagi Yogyakarta, penataan Kampung Lampion bukan langkah yang berdiri sendiri. Upaya serupa juga diarahkan ke kawasan lain di bantaran sungai seperti Kali Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajahwong.

Pendekatan persuasif dan prinsip tanpa konflik menjadi kunci, mengingat kawasan padat penduduk membutuhkan sensitivitas sosial yang tinggi.

Rencana penataan di wilayah lain mulai digerakkan, termasuk kawasan Terban, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan membangun permukiman yang lebih layak.

Penutup

Dari Kampung Lampion, Yogyakarta memperlihatkan bahwa perubahan kota bisa dimulai dari skala kecil yang menyentuh langsung kehidupan warga.

Ketika sungai tidak lagi dipandang sebagai batas, melainkan ruang hidup bersama, Jogja sedang menulis arah baru pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan.(Oi)

sumber: warta.jogjakota.go.id