Scroll untuk baca artikel
EkonomiFavoritePeristiwaWisata

Telur Asin Sewon Tumbuh dari PKH, Usaha Warga Kian Mandiri

×

Telur Asin Sewon Tumbuh dari PKH, Usaha Warga Kian Mandiri

Sebarkan artikel ini

Dari bangkit pascagempa, usaha kecil di Bantul menemukan jalannya

Usaha telur asin di Sewon berkembang berkat PKH, menjadi contoh ketahanan ekonomi warga Bantul pascagempa. Foto: Dok bantulkab.go.id

Bantul, Voicejogja.com – Di sebuah sudut Sewon, aroma telur asin yang baru matang mengisi ruang sederhana tempat sebuah keluarga kembali menata hidup mereka.

Dari puing bangunan usai gempa, usaha kecil ini tumbuh pelan-pelan, membawa harapan yang terasa akrab bagi banyak warga Jogja, bahwa ketahanan keluarga sering lahir dari keberanian untuk memulai ulang.

Dari Gempa Menuju Usaha Baru

Perjalanan itu dijalani Khoiru Zamanudin, warga Malangjiwan, Bangunharjo, yang memulai usaha Telur Asin Kharisma pada 2008. Tempat yang kini menjadi dapur produksinya dulunya adalah toko kelontong keluarga, namun roboh dihantam gempa sehingga memaksa mereka memikirkan arah usaha baru.

“Mulai usaha itu tahun 2008 setelah gempa, kita mencoba usaha telur asin… orang hidup itu pasti butuh makan,” ujarnya sambil mengenang bagaimana ia melanjutkan keterampilan orang tuanya dalam membuat telur asin.

Modal Awal dari Program PKH

Langkahnya mulai menemukan pijakan ketika menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2016. Bantuan itu ia gunakan sebagai tambahan modal, sekaligus dorongan untuk memperkuat usaha yang dirintis dari nol.

“Kita dibantu PKH, akhirnya usaha makin maju. Lama-lama dirasa sudah mampu, jadi kami mengundurkan diri sebagai penerima,” tuturnya.
Sebuah keputusan yang mencerminkan tujuan PKH, mengantar keluarga menuju kemandirian, bukan ketergantungan.

Foto: Dok Bantulkab.go.id

Pelanggan Bertambah, Omzet Menguat

Perlahan, Telur Asin Kharisma berkembang. Omzet yang dulu di bawah Rp100 ribu per hari kini meningkat hingga sekitar Rp300 ribu. Peningkatan permintaan terasa terutama di pasar, pada Ramadan, hingga musim hajatan.

“Pelanggan makin banyak… pas Ramadan itu pesanan banyak, mantenan juga banyak,” jelasnya.
Ia juga kerap menerima pesanan besar, termasuk pesanan hingga 4.000 butir telur asin dari program MBG yang pernah ia penuhi dua kali.

Kualitas Jadi Pegangan Utama

Bagi Khoiru, mempertahankan kualitas adalah cara menjaga kepercayaan pelanggan.
“Kita menjaga kualitas, jadi orang yang sudah pernah pesan itu menikmati dan ketagihan,” katanya.

Telur asin buatannya dibanderol Rp3.300 per butir, dengan jangkauan pemasaran hingga Kotagede. Pemesanan dapat dilakukan langsung melalui WhatsApp, terutama untuk permintaan dalam jumlah besar.

Ketahanan Ekonomi dari Dapur-Dapur Bantul

Kisah ini menjadi gambaran bagaimana usaha keluarga di Bantul sering tumbuh dari proses panjang, dari jatuh, bangkit, lalu menemukan ritme baru.

Dukungan seperti PKH memberi dorongan awal, namun yang menjaga usaha tetap hidup adalah ketekunan, rasa amanah, serta hubungan saling percaya antara pelaku usaha dan warga yang membeli.

Di banyak kampung di Bantul, Yogyakarta, cerita seperti ini terus berulang: ekonomi lokal bergerak bukan hanya oleh usaha besar, tetapi oleh dapur-dapur kecil yang berani bertahan dan tumbuh. (Oi)

Sumber: Bantulkab.go.id