Scroll untuk baca artikel
AgamaFavoritePemerintahPendidikan

Kemenag Latih Fasilitator di Jogja, Perkuat Ketahanan Keluarga

×

Kemenag Latih Fasilitator di Jogja, Perkuat Ketahanan Keluarga

Sebarkan artikel ini

Dari KUA, kolaborasi lokal diarahkan menjawab persoalan nyata keluarga

Ketahanan keluarga di Jogja pada akhirnya bukan hanya soal bertahan, tetapi tentang bagaimana setiap keluarga diberi ruang untuk tumbuh, saling menguatkan, dan menghadapi masa depan dengan kesiapan yang lebih utuh. foto: Dok Kemenag

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di banyak keluarga di Jogja, percakapan kecil tentang ekonomi, komunikasi, hingga kesiapan hidup bersama sering menjadi titik awal persoalan yang lebih besar. Ketahanan keluarga bukan lagi isu jauh, melainkan bagian dari keseharian yang dirasakan banyak rumah tangga.

Melalui pelatihan fasilitator di Yogyakarta, upaya memperkuat ketahanan keluarga diarahkan lebih dekat ke realitas warga, menyentuh relasi, kesiapan, hingga cara keluarga bertahan dan berkembang.

Menguatkan Fondasi dari Awal

Sebanyak 100 fasilitator jejaring lokal dilatih dalam Bimbingan Teknis yang berlangsung 7–10 April 2026 di Yogyakarta. Program ini mendorong kolaborasi lintas sektor dengan mengoptimalkan peran Kantor Urusan Agama (KUA).

Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, Lubenah Amir, menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi utama kehidupan berbangsa.

“Ketika kita berbicara tentang penguatan keluarga, sejatinya kita sedang berbicara tentang masa depan bangsa,” ujarnya.

Pendekatan yang dibangun tidak lagi berhenti pada pencatatan pernikahan, tetapi mengarah pada kesiapan mental, sosial, spiritual, dan tanggung jawab dalam membangun rumah tangga.

KUA Lebih Dekat, Layanan Lebih Relevan

Perubahan pendekatan menjadi penting seiring banyaknya persoalan keluarga yang berawal dari fase awal pernikahan.

KUA didorong hadir tidak hanya sebagai lembaga administratif, tetapi sebagai pusat layanan keagamaan yang memberi pendampingan nyata bagi keluarga.

Layanan yang dibangun diharapkan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, sehingga keluarga tidak berjalan sendiri ketika menghadapi dinamika kehidupan.

Fasilitator sebagai Penghubung Lapangan

Peran fasilitator menjadi titik temu antara program dan kebutuhan warga.

Kasubdit Bina Keluarga Sakinah Kemenag, Zudi Rahmanto, menyebut fasilitator bukan sekadar penyampai materi.

“Fasilitator ini nanti akan menjadi penghubung antara program yang kita rancang dengan kebutuhan nyata di masyarakat,” ujarnya.

Mereka diharapkan mampu membangun jejaring dengan berbagai pihak, mulai dari penyuluh agama, pemerintah daerah, layanan kesehatan, hingga organisasi masyarakat.

Literasi Keuangan Masuk dalam Relasi

Salah satu fokus dalam pelatihan ini adalah literasi keuangan keluarga, yang kerap menjadi pemicu konflik rumah tangga.

Pendekatan ini diintegrasikan dalam penguatan relasi pasangan, termasuk melalui program Sekolah Relasi Suami-Istri (SERASI).

Dengan pemahaman keuangan yang lebih baik, keluarga diharapkan memiliki fondasi yang lebih stabil dalam menjalani kehidupan bersama.

Jogja dan Ruang Kolaborasi Sosial

Di Jogja, jejaring sosial yang sudah hidup di tengah masyarakat menjadi kekuatan penting dalam mendukung program ini.

Kolaborasi antara KUA, komunitas, perguruan tinggi, hingga layanan publik membuka peluang lahirnya solusi yang lebih kontekstual.

Ketika fasilitator mampu menghubungkan berbagai potensi lokal, ketahanan keluarga tidak lagi menjadi konsep, tetapi hadir sebagai praktik yang dirasakan langsung oleh warga. (Oi)

Sumber: Kemenag