Scroll untuk baca artikel
Berita UnggulanBudayaNasionalPemerintahPeristiwaWisata

12 Ribu Pamong Kalurahan Se-DIY Ikuti Kirab dan Pisowanan Mangayubagyo 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X

×

12 Ribu Pamong Kalurahan Se-DIY Ikuti Kirab dan Pisowanan Mangayubagyo 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X

Sebarkan artikel ini
Paguyuban Nayantaka dan Sekartejo membawa hasil bumi (Pisungsung) sebagai simbol rasa terima kasih masyarakat kepada Ngarsa Dalem dan rasa syujur kepa Tuhan Yang Maha Esa.

YOGYAKARTA, voicejogja.com – Sebanyak 12 Ribu Pamong Kalurahan Se-DIY mengikuti Kirab dan Pisowanan untuk Mangayubagyo 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan HB X, Kamis (2/4/2026) pagi. Dari jumlah sebanyak itu, 23 peserta kirab merupakan utusan dari Pemerintah Kalurahan Condongcatur Kapanewon Depok Kabupaten Sleman.

Sesuai jadwal, Kirab Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X mengambil titik berangkat di depan Gedung Agung/Benteng Vredeburg atau Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Dari sekitar 12.000 pamong kalurahan dan unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-DIY yang menyemut memadati kawasan jantung Kota Yogyakarta termasuk Lurah Condongcatur Reno Candra Sangaji. Ia turut ambil bagian mengikuti kirab bertajuk “Mangayubagya 80 Tahun Yuswo Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X”, yang dipusatkan di kawasan sumbu imajiner hingga Pagelaran Kraton Yogyakarta.

Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji menegaskan bahwa keikutsertaan dalam Kirab dan Pisowanan Mangayubagya 80 Tahun Yuswa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan bentuk nyata komitmen Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam menjaga budaya dan pengabdian kepada masyarakat.

“Kami hadir bukan sekadar mengikuti kegiatan, tetapi sebagai wujud tanggung jawab dan pengabdian. Ini adalah bagian dari komitmen kami untuk terus nguri-uri budaya, memperkuat kebersamaan, dan mendukung kepemimpinan Ngarso Dalem,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa pisungsung berupa produk UMKM adalah representasi kekuatan masyarakat Condongcatur.

“UMKM adalah kekuatan kami. Apa yang kami persembahkan hari ini adalah bukti bahwa masyarakat mampu bergerak, mandiri, dan memberikan kontribusi nyata bagi Yogyakarta,” lanjutnya.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur memastikan bahwa semangat dari kegiatan ini akan ditindaklanjuti secara konkret. Kedepan, kami akan terus memperkuat pemberdayaan masyarakat, khususnya sektor UMKM, serta memastikan pembangunan berjalan selaras dengan nilai budaya dan kepentingan masyarakat.

Di akhir, ia menyampaikan harapan, “Mugi Ngarso Dalem tansah pinaringan sehat, panjang umur, lan kawilujengan, serta terus membimbing Yogyakarta dengan kebijaksanaan,” pungkas Reno Candra Sangaji.

Peserta Kirab dan Pisowanan dari Kalurahan Condongcatur Depok Sleman sebelum diberangkatkan.

Setiap peserta yang terdiri dari Pamong Kalurahan/Kelurahan se-DIY, perwakilan Kapanewon/Kemantren, abdi dalem Keraton Yogyakarta, serta paguyuban seperti Nayantaka dan Sekartejo membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur masyarakat kepada Ngarsa Dalem dalam tradisi budaya.

Di DIY terdapat 438 Kalurahan/Kelurahan, setiap Kalurahan mengirimkan 20 hingga 30 pamongnya mengenakan busana yang telah ditentukan dengan urutan Kirab sbb:

  1. Kota Yogyakarta start dari Museum SO 1 Maret pukul 07.00 WIB dengan jumlah peserta 1.364 orang (273 baris).
  2. Kabupaten Sleman start jam 07.15 WIB dengan jumlah peserta 2.597 orang (520 baris).
  3. Kabupaten Bantul start jam 07.45 WIB dengan jumlah peserta 2.267 orang (454 baris).
  4. Kabupaten Gunungkidul start jam 08.15 WIB dengan jumlah peserta 4.338 orang (868 baris).
  5. Kabupaten Kulon Progo start jam 09.00 WIB dengan jumlah peserta 2.652 orang (531 baris).

Peserta start dari Monumen SO 1 Maret menuju Bangsal Pagelaran Keraton Yogyakarta. Sri Sultan Hamengku Buwono X lahir di Yogyakarta pada tanggal  2 April 1946 dengan nama Kecilnya adalah Bendara Raden Mas Herjuno Darpito

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan Mangayubagyo dibagi dalam dua bagian utama. Kegiatan ini dirancang untuk mengakomodasi peserta dari kalurahan sekaligus masyarakat umum yang ingin turut merayakan.

Pada pagi hingga siang hari, sajian angkringan disiapkan secara khusus di kawasan Alun-Alun Utara untuk mendukung kegiatan Mangayubagyo, dengan 80 titik angkringan. Dan sore hari, perayaan berlanjut dalam bentuk pesta rakyat yang terbuka untuk umum di kawasan Malioboro.

Yang pasti, suasana pun bergeser menjadi lebih cair, di mana masyarakat dapat menikmati angkringan sambil menyaksikan berbagai pertunjukan seni di ruang terbuka. (Wasana)

Editor : Mukhlisin Mustofa/Red