Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Ni Nengah Widiasih Bangun Usaha Kuliner dari Bonus Atlet

×

Ni Nengah Widiasih Bangun Usaha Kuliner dari Bonus Atlet

Sebarkan artikel ini

Langkah atlet Paralimpiade siapkan masa depan dan buka peluang kerja

Ni Nengah Widiasih bangun usaha kuliner dari bonus atlet, jadi langkah nyata siapkan masa depan dan buka lapangan kerja. foto: widya/Humas Kemenpora

Jakarta, Voicejogja.com – Di balik kerasnya latihan dan panggung Paralimpiade, ada fase hidup yang tak kalah penting: masa depan setelah karier olahraga. Itulah yang mulai disiapkan Ni Nengah Widiasih melalui usaha kuliner yang ia bangun dari bonus prestasi.

Kisah ini bukan sekadar tentang atlet, tetapi tentang bagaimana prestasi bisa menjadi pijakan ekonomi yang berdampak bagi banyak orang.

Dari Podium ke Dapur Usaha

Atlet para-powerlifting Indonesia, Ni Nengah Widiasih, memanfaatkan bonus dari pemerintah untuk membuka rumah makan khas Bali bernama “Babi Guling Balah Men Bingin” di kawasan Kesiman, Denpasar, pada Februari 2026.

Langkah ini menjadi transformasi nyata dari dunia olahraga menuju sektor ekonomi produktif, sekaligus membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.

“Perhatian pemerintah terhadap atlet sekarang luar biasa. Dari bonus yang diberikan, saya bisa mengembangkan usaha sebagai bekal masa depan,” ujar Ni Nengah.

Menyadari Batas Karier Atlet

Sebagai peraih medali perunggu Paralimpiade Rio 2016 dan perak Tokyo 2020, Ni Nengah memahami bahwa karier atlet tidak berlangsung selamanya.

Kesadaran itu mendorongnya merintis usaha sejak dini, agar keberlanjutan ekonomi tetap terjaga setelah tidak lagi aktif bertanding.

Usaha kuliner ini juga tumbuh dari akar keluarga. Sang ayah yang memiliki keahlian memasak menjadi sosok penting di dapur, sementara Ni Nengah mengelola usaha bersama keluarga.

Nilai Emosional dan Dampak Sosial

Lebih dari sekadar bisnis, rumah makan ini juga menyimpan makna personal. Kehadiran usaha tersebut menjadi cara untuk menjaga produktivitas sang ayah setelah kepergian ibunya.

Di sisi lain, Ni Nengah melihat peluang ini sebagai ruang untuk berbagi manfaat.

“Saya tidak ingin sukses sendirian. Kalau punya usaha dan bisa membuka lapangan kerja, itu sudah sangat berarti,” ungkapnya.

Tantangan Baru di Luar Arena

Dunia kuliner menghadirkan tantangan berbeda dibandingkan olahraga. Ni Nengah harus memahami alur bisnis secara menyeluruh, dari produksi hingga pelayanan pelanggan.

“Di balik satu hidangan ada banyak proses dan orang yang terlibat. Ini pengalaman baru bagi saya,” katanya.

Namun proses ini justru menjadi ruang belajar baru, sekaligus memperluas peran atlet dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Inspirasi untuk Generasi Muda

Langkah Ni Nengah Widiasih menunjukkan bahwa prestasi olahraga tidak berhenti di podium. Ia bisa menjadi fondasi untuk membangun kemandirian dan memberi dampak lebih luas.

Bagi warga, termasuk di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pembinaan atlet, kisah ini menghadirkan perspektif penting: bahwa masa depan atlet perlu dipersiapkan sejak dini.

Penutup

Dari arena angkat beban hingga dapur usaha, perjalanan Ni Nengah Widiasih memperlihatkan satu hal sederhana namun kuat, bahwa keberhasilan sejati adalah ketika prestasi mampu menghidupi, bukan hanya membanggakan.

Dan di situlah olahraga menemukan makna yang lebih dalam: sebagai jalan menuju kemandirian dan kebermanfaatan bagi sesama.(Oi)

sumber: Infopublik.id