Scroll untuk baca artikel
NasionalPemerintahPendidikan

Ratusan Ribu Ikuti Kurikulum Berbasis Cinta via MOOC

×

Ratusan Ribu Ikuti Kurikulum Berbasis Cinta via MOOC

Sebarkan artikel ini

Pendidikan berbasis empati menemukan momentumnya

Lebih 300 ribu peserta ikuti Kurikulum Berbasis Cinta via MOOC, dorong pendidikan empatik yang relevan bagi masa depan Jogja. foto: Dok Kemenag

Jakarta, Voicejogja.com – Di tengah ruang belajar yang sering terasa kaku, pendekatan berbasis cinta justru menarik ratusan ribu orang untuk terlibat. Lebih dari 300 ribu peserta mendaftar dalam program Kurikulum Berbasis Cinta melalui MOOC Pintar, menandai perubahan cara pandang terhadap pendidikan di Indonesia.

Gelombang ini bukan sekadar angka, tetapi sinyal bahwa kebutuhan akan pendidikan yang lebih manusiawi semakin dirasakan luas, termasuk oleh warga Yogyakarta yang selama ini dikenal kuat dengan nilai budaya dan kebersamaan.

Pendidikan yang Menghidupkan Nilai

Program Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta digagas oleh Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Agama. Gagasan ini lahir dari dorongan untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga nilai empati dan kemanusiaan.

Kepala BMBPSDM, Muhammad Ali Ramdhani, menegaskan bahwa inisiatif ini tidak berhenti pada seremoni. Ia ingin nilai cinta benar-benar hadir dalam praktik belajar dan dirasakan oleh berbagai kalangan.

“Sayang rasanya jika launching ini hanya seremonial semata. Kami akan menghadirkan wujud Dialog Cinta agar semangat ini dapat dirasakan dan menjangkau seluruh penjuru,” ujarnya.

Dari Konsep ke Pengalaman Belajar

Kurikulum Berbasis Cinta dikembangkan sebagai gerakan yang mengembalikan ruh pendidikan. Tidak hanya berorientasi pada logika, tetapi juga pada pembentukan karakter yang menghargai martabat manusia.

Nilai yang diusung dirangkum dalam konsep Panca Cinta, mulai dari cinta kepada Tuhan, ilmu, alam, diri dan sesama, hingga tanah air. Pendekatan ini menjadi pembeda karena proses belajar dirancang lebih hidup dan personal.

Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi diajak menjelajah melalui diary, alur cerita, hingga gamifikasi yang membuat pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Antusiasme dan Jangkauan Nasional

BMBPSDM mencatat jumlah pendaftar mencapai 305.344 peserta. Angka ini menunjukkan antusiasme besar terhadap pendekatan pendidikan berbasis nilai.

Sebaran peserta didominasi beberapa provinsi besar seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, disusul Aceh dan Sumatera Utara. Tingginya partisipasi ini mencerminkan bahwa pendekatan pendidikan yang mengedepankan empati memiliki daya tarik lintas wilayah.

“Ini angka yang teramat sangat dahsyat, menandakan bahwa semangat belajar tentang Kurikulum Berbasis Cinta memiliki magnet yang luar biasa,” kata Ramdhani.

Relevansi bagi Jogja dan Masa Depan Pendidikan

Sepanjang tahun sebelumnya, program ini telah diperkenalkan secara bertahap melalui pelatihan, workshop, hingga uji terap di ribuan madrasah. Fondasi tersebut kini diperluas melalui pembelajaran mandiri berbasis digital.

Bagi Yogyakarta, yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dan ruang tumbuhnya nilai budaya, pendekatan ini memiliki relevansi kuat. Pendidikan yang menekankan empati dan kebersamaan sejalan dengan karakter sosial masyarakat Jogja.

Di tengah perubahan zaman, arah ini memberi harapan bahwa ruang belajar tidak hanya mencetak kemampuan, tetapi juga membentuk manusia yang utuh, yang mampu hidup berdampingan, saling menghargai, dan menjaga nilai kemanusiaan.(Oi)