Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

AI Dinilai Gerus Daya Kritis, Pesan dari Kampus UGM

×

AI Dinilai Gerus Daya Kritis, Pesan dari Kampus UGM

Sebarkan artikel ini

Talenta digital di Jogja diingatkan tetap menempatkan manusia sebagai pusat

AI dinilai mulai menggerus daya kritis. Talenta digital di Jogja diingatkan tetap bijak dan humanis dalam menggunakan teknologi. . Foto: DRA/Komdigi

Yogyakarta, Voicejogja.com – Di ruang-ruang belajar kampus, kecerdasan buatan kini hadir semakin dekat. Namun di balik kemudahan itu, ada kekhawatiran yang mulai terasa, daya pikir kritis perlahan bisa tergeser.

Pesan ini mengemuka di Yogyakarta, saat diskusi tentang masa depan talenta digital menyentuh hal paling mendasar: bagaimana manusia tetap menjadi pengendali teknologi.

Peringatan dari Dunia Akademik

Dalam Workshop AI Talent Factory di Universitas Gadjah Mada, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyoroti dampak penggunaan AI yang semakin masif.

Baca Juga: Kekomdigi Dorong Generasi Muda Kuasai Literasi Digital

Ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan berpotensi mengurangi kemampuan berpikir kritis, terutama di kalangan pelajar dan profesional.

“Jangan sampai kita kehilangan daya kritis karena semua diserahkan kepada AI. Itu sudah mulai terjadi di dunia pendidikan,” ujarnya.

Talenta Digital Butuh Kendali, Bukan Sekadar Skill

Pengembangan talenta digital, menurutnya, tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan teknis. Ada dimensi penting yang harus dijaga, yakni kesadaran dalam menggunakan teknologi.

Talenta masa depan dituntut memahami cara berinteraksi dengan AI secara tepat, sekaligus mampu mengendalikan penggunaannya.

Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pusat dalam setiap proses teknologi.

“Desain AI harus human-centric agar teknologi yang dikembangkan memberi dampak positif pada manusia,” jelasnya.

Risiko Instan dan Hilangnya Analisis

Kemudahan yang ditawarkan AI sering kali mendorong pola pikir instan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kemampuan analisis dan pertimbangan etis.

Karena itu, setiap hasil yang dihasilkan AI tetap perlu diuji dan dievaluasi secara kritis.

Kemampuan mengambil keputusan, menurut Nezar, tidak boleh sepenuhnya dialihkan kepada mesin.

AI untuk Menjawab Masalah Nyata

Di sisi lain, pemanfaatan AI tetap didorong untuk menjawab kebutuhan di sektor strategis seperti pangan, energi, kesehatan, dan maritim.

Pendekatan berbasis masalah dinilai penting agar teknologi tidak berhenti pada eksperimen, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.

“Ambisi strategis diperlukan agar kita tidak hanya mengadopsi teknologi, tetapi mampu menggunakannya untuk menyelesaikan masalah nyata,” ujarnya.

Jogja dan Masa Depan Talenta Digital

Workshop AI Talent Factory diikuti mahasiswa dan dosen dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Program ini diarahkan untuk membentuk talenta digital yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memahami dampaknya bagi kehidupan.

Di Jogja, ruang-ruang akademik seperti ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya.

Baca Juga: Kekomdigi Dorong Ketahanan Pangan Lewat Program Tani Digital

Menjaga Keseimbangan di Era Teknologi

Perkembangan AI tidak bisa dihindari, namun cara manusia menyikapinya akan menentukan arah masa depan.

Jogja, dengan kekuatan pendidikannya, berada di titik penting untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai kemanusiaan.

Di tengah laju teknologi, daya pikir kritis tetap menjadi fondasi, agar kemajuan tidak kehilangan arah.(Oi)