Yogyakarta, Voicejogja.com – Di tengah harapan bangkit, langkah PSIM Yogyakarta justru diuji lebih berat. Saat tim bersiap menuju laga tandang, sejumlah pilar penting dipastikan absen—menyisakan tanda tanya besar bagi suporter Laskar Mataram.
Bagi warga Jogja, ini bukan sekadar pertandingan. Ini soal harapan yang belum juga menemukan bentuknya.
Persiapan Tak Ideal Jelang Laga Tandang
PSIM Yogyakarta terus mematangkan persiapan menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/26.
Namun, kondisi tim tidak sepenuhnya ideal. Sejumlah pemain harus menepi akibat cedera dan sanksi, membuat pelatih Jean Paul Van Gastel harus meracik ulang komposisi tim.
“Kondisi pemain bagus. Mereka bekerja keras meskipun kami memiliki beberapa pemain yang cedera dan mendapat sanksi larangan bermain,” ujarnya.
Situasi ini membuat persiapan terasa lebih kompleks, meski semangat tim disebut tetap terjaga.
Lini Belakang Kehilangan Pilar
Kekuatan PSIM dipastikan pincang, terutama di lini belakang. Dua pemain andalan, Franco Ramos Mingo dan Yusaku Yamadera, harus absen karena akumulasi kartu kuning.
Di sisi lain, persoalan cedera juga belum sepenuhnya selesai. Anton Fase masih dalam masa pemulihan, sementara Rahmatsho dipastikan absen dan kondisi Abiyoso masih menunggu keputusan tim medis.
Baca Juga: PSIM Perluas Bisnis Ke YIA
Kehilangan ini bukan sekadar soal nama, tetapi tentang keseimbangan tim yang harus dibangun ulang dalam waktu singkat.
Evaluasi Krusial: Bola Mati Jadi Sorotan
Dari hasil laga sebelumnya, satu catatan penting muncul: antisipasi bola mati. Hal ini menjadi fokus utama dalam sesi latihan jelang pertandingan.
Van Gastel menilai ada persoalan pada aspek kedisiplinan dan tanggung jawab pemain saat menjaga lawan.
“Kami melakukan penjagaan satu lawan satu. Salah satu masalah kami adalah kurangnya rasa urgensi dan tanggung jawab,” tegasnya.
Terlihat detail, tetapi justru di situlah pertandingan sering ditentukan.
Tren Negatif Bayangi Performa
Hasil kurang maksimal dalam beberapa laga terakhir masih membayangi perjalanan PSIM musim ini.
Kekalahan saat menjamu PSM Makassar menambah panjang catatan yang belum memuaskan. Dalam 10 pertandingan terakhir, PSIM hanya mencatat satu kemenangan, disertai lima hasil imbang dan empat kekalahan.
Banyak suporter mulai bertanya, kapan momentum kebangkitan itu benar-benar datang?
Harapan yang Masih Dijaga
Meski kondisi tim tidak ideal, fokus tetap diarahkan pada permainan sendiri. Tidak ada perlakuan khusus, hanya upaya menjaga konsistensi di tengah tekanan.
Bagi Jogja, PSIM bukan sekadar klub. Ia adalah identitas, kebanggaan, sekaligus ruang harapan yang selalu hidup di setiap pertandingan.
Dan mungkin, di tengah keterbatasan inilah, karakter tim justru benar-benar diuji.













