Yogyakarta, Voicejogja.com – Langkah kaki di Malioboro pada Sabtu pagi tak lagi sekadar menyusuri deretan toko dan pedagang. Di sisi timur kawasan ini, suara gamelan, goresan kuas, hingga lantunan aksara Jawa pelan-pelan mengubah suasana, menjadi ruang belajar yang hidup.
Bagi warga Jogja dan wisatawan, pengalaman ini terasa berbeda. Bukan hanya datang dan pergi, tapi ikut merasakan, menyentuh, dan memahami budaya yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan.
Dari Jalanan Jadi Ruang Belajar
Program “Setu Sinau” yang diinisiasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menghadirkan konsep kelas budaya terbuka di ruang publik Malioboro. Digelar setiap Sabtu pagi di kawasan sekitar DPRD DIY, kegiatan ini mengusung format street workshop yang mudah diakses siapa saja.
Baca Juga: Pelan tapi Pasti Layanan Kesehatan Mental Diperkuat
Enam kelas berjalan bersamaan: Sinau Aksara Jawa, Sinau Nggamel, Sinau Ngadi Busana, Sinau Njoged, Sinau Nggambar, hingga Sinau Dolanan Anak. Semua dipandu langsung oleh pelaku seni dan komunitas budaya Jogja.
Terlihat sederhana, tapi di sinilah kekuatannya, budaya tidak lagi berjarak, melainkan hadir di tengah langkah sehari-hari.
Lebih dari Sekadar Wisata
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut Setu Sinau sebagai nilai tambah bagi Malioboro.
“Inilah value added Malioboro, kunjungan yang bukan hanya meninggalkan jejak konsumsi, tetapi juga pengalaman dan kedekatan emosional dengan kebudayaan Yogyakarta,” ujarnya.
Pendekatan ini mengubah cara orang menikmati Malioboro. Dari sekadar tempat belanja dan berjalan, menjadi ruang interaksi budaya yang lebih dalam.
Banyak yang tidak menyadari, ketika wisata hanya berhenti pada konsumsi, maka yang tersisa hanyalah ingatan singkat. Namun ketika ada pengalaman, yang tertinggal bisa menjadi ikatan.
Mendekatkan Budaya ke Generasi Muda
Program yang berlangsung pukul 07.00–09.00 WIB ini mulai digelar sejak pertengahan Februari 2026 dan terus berlanjut setiap akhir pekan.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih segar dalam mengenalkan budaya.
“Aksara Jawa dan berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup dan relevan,” ungkapnya.
Baca Juga: STVC 2026, Ulangtahun SMAN 1 Temon
Di tengah arus digitalisasi, cara belajar seperti ini menjadi jembatan penting, antara tradisi dan generasi baru yang tumbuh dengan ritme berbeda.
Malioboro Sebagai Wajah Jogja
Setu Sinau perlahan menggeser makna ruang publik di Jogja. Malioboro bukan hanya etalase ekonomi atau destinasi wisata, tetapi juga ruang edukasi yang inklusif.
Pengunjung yang awalnya sekadar berjalan santai kini sering berhenti, bahkan ikut terlibat langsung dalam kelas yang berlangsung.
Apa yang terjadi di Malioboro ini seperti memberi isyarat: masa depan budaya Jogja tidak hanya dijaga di ruang tertutup, tetapi dihidupkan di ruang yang paling dekat dengan masyarakat.
Dan mungkin, di antara langkah-langkah sederhana itu, ada generasi baru yang diam-diam mulai jatuh cinta pada budayanya sendiri.(Oi)
Sumber: Warta.jogjakota.go.id













