Scroll untuk baca artikel
BudayaDaerahFavorite

Live Music Koes Plus di Bantul, Rawat Memori Jogja

×

Live Music Koes Plus di Bantul, Rawat Memori Jogja

Sebarkan artikel ini

Dari Omah Pleret, tembang kenangan menyatukan lintas generasi

Live music Koes Plus di Omah Pleret Bantul jadi ruang pelestarian tembang kenangan dan kebersamaan warga Jogja. foto: istimewa

Bantul, Voicejogja.com – Malam di Pleret tak sekadar sunyi. Di Omah Pleret, lagu-lagu Koes Plus kembali hidup, mengalun dan menyatukan warga dalam ruang yang hangat dan akrab.

Bagi banyak orang di Jogja, tembang kenangan bukan sekadar musik, melainkan bagian dari ingatan kolektif yang terus dijaga.

Ruang Kecil, Makna Besar

Semangat melestarikan lagu legendaris Indonesia terus tumbuh di Bantul. Melalui komunitas pecinta Koes Plus dan Koes Bersaudara, agenda musik rutin digelar sebagai ruang temu lintas generasi.

Romo Nurdi, pemilik Omah Pleret, telah menjaga ruang ini selama sekitar 15 tahun. Tempat ini bukan hanya panggung, tetapi juga rumah bagi para penggemar yang ingin merawat ingatan bersama.

“Misi kami adalah melestarikan tembang kenangan dari Koes Plus dan Koes Bersaudara,” ujar Romo Nurdi.

Baginya, musik menjadi jembatan untuk mempererat solidaritas antarwarga.

Panggung Mingguan yang Terus Hidup

Agenda terbaru bertajuk “Live Music Tembang Abadi” digelar pada Minggu, 26 April 2026, mulai pukul 20.00 hingga 23.00 WIB.

Grup Campur Plus tampil sebagai pengisi acara, dipandu MC Bardi CB, dengan dukungan tata suara dari Java Sound Audio Sistem.

Setiap pekan, panggung ini bergantian diisi oleh komunitas yang berbeda. Pola ini menjaga keberlanjutan sekaligus memberi ruang ekspresi bagi banyak kelompok.

Di Jogja, komunitas pecinta Koes Plus memang tumbuh kuat, dengan sekitar 30 hingga 40 kelompok aktif yang terus menjaga denyutnya.

Musik sebagai Ikatan Sosial

Lebih dari hiburan, kegiatan ini menjadi cara sederhana namun bermakna dalam merawat hubungan sosial.

Warga datang bukan hanya untuk mendengar lagu, tetapi juga untuk berbagi cerita, mengenang masa lalu, dan membangun kedekatan baru.

“Musik bisa mempererat kekompakan persaudaraan,” kata Romo Nurdi.

Di tengah perubahan zaman, ruang seperti ini menjadi penting untuk menjaga nilai kebersamaan yang khas Jogja.

Dari Kuliner hingga Budaya

Omah Pleret juga dikenal dengan sajian Bubur Krecek di pagi hari, menambah daya tarik sebagai ruang budaya yang hidup sepanjang waktu.

Perpaduan antara kuliner dan musik menjadikan tempat ini bukan sekadar lokasi acara, tetapi bagian dari ekosistem budaya lokal.

Di Bantul, langkah kecil seperti ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa tumbuh dari inisiatif warga, bukan hanya program besar.

Penutup

Dari sudut Pleret, Jogja kembali mengajarkan bahwa warisan budaya tidak selalu harus megah untuk tetap hidup.

Selama masih ada ruang, suara, dan kebersamaan, tembang kenangan akan terus menemukan jalannya, menjaga ingatan, sekaligus mengikat masa depan.(Oi)