Kulon Progo, Voicejogja.com – Di tengah hamparan lahan di Lendah, Kulon Progo, berdiri harapan yang pelan-pelan dibangun. Sekolah Rakyat hadir sebagai jalan bagi anak-anak prasejahtera untuk mengakses pendidikan gratis tanpa beban.
Bagi banyak keluarga, ini bukan sekadar proyek, tetapi peluang nyata untuk memutus rantai keterbatasan yang selama ini diwariskan.
Pendidikan sebagai Jalan Perubahan
Kunjungan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, ke lokasi pembangunan Sekolah Rakyat di Desa Gulurejo menegaskan arah besar program ini.
Sekolah ini dirancang sebagai kawasan pendidikan terintegrasi, mencakup jenjang SD hingga SMA dalam satu lingkungan.
“Ini adalah konsep yang benar-benar ingin menjadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan di berbagai daerah,” ujarnya.
Gagasan tersebut menempatkan pendidikan sebagai titik awal perubahan, terutama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Gratis Total, Tanpa Beban Keluarga
Sekolah Rakyat di Kulon Progo menjadi satu-satunya proyek serupa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdiri di atas lahan 7,1 hektar, fasilitas yang disiapkan mencakup ruang kelas modern, asrama, hingga sarana olahraga.
Yang paling mendasar, seluruh kebutuhan siswa ditanggung negara.
“Sekolah gratis, makan gratis, bahkan pakaian dan perlengkapan lainnya disiapkan,” kata AHY.
Skema ini membuka akses pendidikan yang selama ini sulit dijangkau oleh keluarga berpenghasilan rendah.
Progres dan Tantangan di Lapangan
Pembangunan proyek bernilai sekitar Rp214 miliar ini telah mencapai sekitar 38 persen. Meski terdapat keterlambatan, langkah percepatan mulai dilakukan agar target penyelesaian tetap terjaga.
Penambahan tenaga kerja dan optimalisasi alat berat menjadi bagian dari upaya menjaga ritme pembangunan.
Jika rampung, sekolah ini diproyeksikan menampung lebih dari seribu siswa, sekaligus menjadi ruang hidup baru dengan kehadiran tenaga pendidik dan pengelola asrama.
Dampak untuk Kulon Progo dan Jogja
Bagi Kulon Progo, Sekolah Rakyat bukan hanya tentang pendidikan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, melihat proyek ini sebagai langkah penting dalam mencetak generasi unggul.
“Ini bukan hanya soal fisik bangunan, tapi upaya mencetak SDM berkualitas,” ujarnya.
Kehadiran sekolah ini juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi wilayah sekitar, seiring meningkatnya aktivitas dan kebutuhan pendukung.
Penutup
Dari Lendah, Jogja kembali menunjukkan arah pembangunan yang berpihak pada masa depan warganya.
Ketika pendidikan menjadi lebih dekat dan terjangkau, yang tumbuh bukan hanya gedung sekolah, tetapi juga kesempatan baru bagi generasi yang selama ini tertinggal.(Oi)
Sumber: Kulonprogokab.go.id













