Yogyakarta, VoiceJogja.com – Banjir bandang yang menyapu Aceh dan sebagian daratan Sumatra bukan sekadar kabar jauh dari utara. Ia seperti cermin yang memantulkan pertanyaan bagi kita di Jogja: sudahkah kita merawat akar kehidupan dengan sungguh-sungguh?
Ketika hutan di hulu beralih fungsi, yang hilang bukan hanya pepohonan, tetapi penyangga kehidupan. Air meluap, tanah longsor, sumber air bersih mengering. Di situlah pohon terasa sebagai nafas bumi yang selama ini bekerja diam-diam.

Deforestasi dan Runtuhnya Penyangga Hidup
Dalam esai berjudul Wit: Nafas Bumi yang Terabaikan, Supriyadi, S.Fil., mengingatkan bahwa deforestasi bukan sekadar kehilangan kayu. Pohon adalah sistem pendukung kehidupan yang paling mendasar.
Di hutan tropis Sumatra, jenis-jenis seperti Meranti (Shorea spp.), Kapur, Keruing (Dipterocarpus spp.), Kulim, Rengas, hingga Balau berfungsi sebagai infrastruktur hidrologis. Akar mereka menyerap air hujan, menyimpannya di tanah, dan mencegahnya berubah menjadi banjir.
Bambu di bantaran sungai dan Bakau di pesisir menjaga keseimbangan darat dan air. Tanpa mereka, tanah mengeras, air meluap, dan siklus kekeringan serta kebanjiran datang silih berganti.
Krisis ekologis yang terjadi di Aceh menjadi pengingat bahwa ketika hutan di hulu rusak, bendungan alami yang melindungi manusia selama ribuan tahun ikut runtuh.
Wit: Pohon sebagai Asal Kehidupan
Dalam pandangan hidup Jawa, pohon bukan sekadar batang dan daun. Ia disebut wit, yang beresonansi dengan wiwitan dan kawitan, asal-muasal atau permulaan.
Dari sanalah lahir pemahaman bahwa segala sesuatu memiliki akar. Bahkan kata sajaroh (yang berarti sejarah) berasal dari bahasa Arab sajaratun, pohon. Menelusuri sejarah berarti menelusuri akar.
Kata wit juga terhubung dengan wetan, timur, arah matahari terbit. Timur adalah simbol cahaya dan permulaan. Menjaga pohon berarti menjaga harapan agar kehidupan terus terbit setiap hari.

Filosofi Pohon di Keraton Yogyakarta
Kearifan ini masih hidup di lingkungan Keraton Yogyakarta. Pohon-pohon di sana ditanam sebagai simbol nilai, bukan sekadar penghijauan.
Beringin (Ficus benjamina) di Alun-Alun melambangkan pengayoman. Tajuknya yang luas adalah gambaran pemimpin yang menaungi rakyatnya. Waringin Kurung dan Sri Makutha Raja menjadi saksi filosofi kepemimpinan yang berakar kuat namun memberi teduh.
Pohon Gayam mengingatkan tekad untuk nggayuh atau meraih keutamaan hidup. Kepel melambangkan persatuan dan kesehatan. Sawo Kecik (sarwo becik) menjadi doa agar hidup senantiasa dalam kebaikan.
Kemuning mengajarkan keheningan batin, sementara Tanjung di Bangsal Keben melambangkan kesetiaan. Bahkan Pakel dan Kweni merepresentasikan fase kedewasaan manusia.
Di Jogja, pohon bukan benda mati. Ia adalah simbol moral, spiritual, dan sosial.

Jogja dan Tanggung Jawab Merawat Akar
Krisis lingkungan di Aceh menjadi peringatan bahwa ketika pohon diperlakukan hanya sebagai komoditas, kita sedang merusak kayun, kehidupan itu sendiri.
Bagi Yogyakarta yang kaya kearifan budaya, menjaga pohon bukan hanya soal mitigasi banjir atau ruang hijau kota. Ia adalah upaya menghubungkan kembali manusia dengan wiwitan-nya.
Menanam pohon hari ini berarti menulis sejarah yang lebih baik untuk generasi mendatang. Agar mereka tumbuh seteduh Beringin, seteguh Gayam, dan sebaik Sawo Kecik.
Karena pada akhirnya, menjaga pohon adalah menjaga diri sendiri. Pohon adalah nafas. Dan nafas adalah hidup.(Oi)














